Minggu, 19 Juli 2015

Fanfic IS
Chapter 4 Part 9
Dilain tempat teknisi mesin sedang menyentuh IS Charlotte didepannya, seraya ingin membicarakan sesuatu.

“Kumohon, pinjamkan aku kekuatanmu!” Bisik teknisi mesin dari dalam hati. Konseterasinya terganggu saat mendengar suara Alicia terkena serangan.

“Kumohon! Pinjamkan aku kekuatanmu! Aku ingin menyelamatkan dia!” Teriak teknisi mesin itu dari dalam hatinya lagi. Teknisi mesin langsung membayangkan Alicia sedang terjatuh saat melawan Unmanned IS itu.

“Dulu, aku sudah kalah olehmu karena kelemahanku saat itu. Dan karena itulah, aku berada disini untuk berusaha menjadi lebih kuat lagi, walaupun itu sangat mustahil bagiku!” Teriak teknisi mesin itu didalam hatinya sambil membayangkan masa lalunya lagi.

Tanpa disadari oleh teknisi mesin Alicia sudah terjatuh pingsan terkena serangan Unmanned IS.

“Tapi sekarang, aku ada seseorang yang ingin kujaga dan kulindungi, karena itulah, pinjamkan aku kekuatanmu! Untuk menyelamatkan dia!” Teriak teknisi mesin lagi dari dalam hatinya seraya menyerukan suaranya.

Tiba-tiba IS Charlotte langsung bersinar, menandakan IS itu menerimanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa kau bisa menerimaku” Bingung teknisi mesin melihat cahaya tadi seraya memahaminya.

Teknisi mesin itu langsung memasangkan IS Charlotte kebadannya dan ternyata bisa terpasang.

“Bisa!” Kaget teknisi mesin itu bisa memakai IS sambil mengecek pergerakan tangannya.

“Baiklah!” Teknisi mesin itu langsung lepas landas dari hangar menuju lapangan.

Sementara Shinji yang masih menghancurkan dinding besi penghalangnya berhasil dihancurkan tepat setelah teknisi mesin tadi lepas landas.

“Heh... Akhirnya” Hela nafas Shinji agak kecapekan karena terus menebas pedangnya.

“Eh... Siapa itu?” Kaget Ichika melihat seseorang menaiki IS Charlotte.

Topi dari sang teknisi mesin langsung terlepas karena hempasan angin saat terbang, terlihat rambut hitam terkesan rapi dan mata berwarna cokelat kehitaman nampak dari wajah teknisi mesin itu.

“EHH! TIDAK MUNGKIN! DIA BISA MENAIKI IS JUGA?!” Kaget Shinji melihat teknisi mesin itu terbang dengan IS Charlotte.

“Laki-laki ketiga!” Kaget Chifuyu-sensei dan Yamada-sensei melihat teknisi mesin itu dari ruang operatornya.

“UWAAAAH!!!” Teriak teknisi mesin itu bersiap menyerang Unmanned IS yang juga bersiap menyerang Alicia yang tengah pingsan.

Dikeluarkannya senjata Sniper Rifle dari IS nya dan langsung menembaknya dari kejauhan, Unmanned IS itu langsung menoleh perhatian nya pada teknisi mesin yang menembaknya tadi.

“Akulah lawanmu!” Tantang teknisi mesin kepada Unmanned IS sambil terbang dengan cepat mendekatinya. Teknisi mesin itu menyerang Unmanned IS dengan tinju tangan kirinya dan menusuknya dengan senjata pilebunker yang tersembunyi ditangan kirinya, dilanjutkan dengan retetan tembakan dari sub-machine gun ditangan kanan nya hingga hancur meledak. Setelah mengalahkannya teknisi mesin itu langsung menggendong Alicia dan memanggil Shinji.

“Hei, kau yang pakai IS merah!” Panggil teknisi mesin kepada Shinji lewat virtual contact.

“Ehh... Apa?” Tanya Shinji langsung.

“Aku yang akan mengurus semua korban nya, selagi aku menolongnya kau urus semua IS itu!” Perintah teknisi mesin itu pada Shinji seraya mempercayakannya.

“Ya! Baiklah!” Shinji langsung menuruti perintahnya dan terbang menghadang ke-tiga Unmanned IS lainnya.

“Lawan kalian selanjutnya adalah aku!” Tantang Shinji pada Unmanned IS itu.

Teknisi mesin langsung menggendong Alicia dan pilot IS lain nya yang juga pingsan ketempat Shinji membuat lubang keluar tadi.

“Tolong jaga mereka” Teknisi mesin itu membaringkan mereka berdua seraya memohon.

“Iya” Ichika yang kebetulan ada disitu langsung menurutinya. Teknisi mesin itu kembali terbang menghadapi Unmanned IS itu.

Sementara itu Shinji terus menghindar serangan missile dan menyerang balik dengan senjata assault rifle melawan Unmanned IS.

“Heh, itu saja kebolehan kalian?” Remeh Shinji pada Unmanned IS. Teknisi mesin langsung membantu Shinji dengan menembakan Shotgun kesalah satu Unmanned IS didepan nya.

“D! Boleh aku Tanya sesuatu?” Ditengah situasi genting melawan Unmanned IS Shinji bertanya pada DEVIL dengan panik.

“APA ITU? CEPATLAH. MUSUH MASIH BANYAK YANG HARUS DIHADAPI!” Tanya balik DEVIL.

“Apa itu kepanjangan dari F.B.L?” Tanya Shinji lagi melihat senjata ke-tiga nya.

“ITU SINGKATAN DARI FLAMER, BLASTER DAN LASER” Jawab DEVIL datar.

“F.B.L ya? Kedengaran nya menarik!” Shinji langsung mengganti senjata assault rifle dengan twin F.B.L dikedua bawah tangannya.

“Terima ini!” Shinji langsung menembakan partikel laser kearah kedua Unmanned IS didekatnya, tapi berhasil dihindari oleh mereka.

“Eh? Apa?” Kaget Shinji tembakan nya berhasil dihindari.

“Gunakan lock-on target system dari IS mu itu saat menembak!” Teknisi mesin mendekati Shinji sambil memberi saran.

“Aku tahu!” Balas Shinji pada teknisi mesin.

“Disampingmu!” Teknisi mesin langsung memperingatkan Shinji untuk menghindar dari tembakan laser dari Unmanned IS yang diserang Shinji sebelumnya, beruntung Shinji mendengarkan nya dan berhasil menghindar.

“Huh, nyaris saja” Lega Shinji berhasil menghindar.

“Jangan santai saja melawan mereka, hadapi dengan serius!” Teknisi mesin itu memarahi Shinji yang terkesan main-main melawan Unmanned IS itu.

“Siapa kau ini memangnya? Ibuku ya?” Balas Shinji jengkel.

“Tidak usah peduli siapa aku, yang penting utamakan keselamatan semua orang disini!” Teknisi mesin membalas balik seraya tidak mempedulikan kejengkelan Shinji.

“Iya! Aku mengerti!” Angguk Shinji paham yang masih jengkel dengannya.

Shinji langsung mengganti senjata F.B.L nya dengan twin blades dan terbang mendekati salah satu Unmanned IS. Tepat sebelum Unmanned IS itu menyadari keberadaan Shinji ia menggabungkan kedua twin blades nya menjadi satu pedang besar.

“Terima ini!” Shinji langsung membelah Unmanned IS itu menjadi 2 hingga hancur meledak.

Disatu sisi teknisi mesin dengan tenang terbang dilangit menghindar 2 serangan hujan laser dari kedua Unmanned IS yang dihadapinya.

“Terima ini!” Teknisi mesin langsung membalas serangan kedua Unmanned IS tadi dengan senjata Shotgun ditangan kirinya dan Assault Rifle ditangan kanan nya.

“D, apa serangan special dari IS ini?” Tanya Shinji kepada DEVIL setelah mengalahkan lawan sebelumnya.

“KAU BISA GUNAKAN KEKUATAN INI” Jawab DEVIL.

“Kekuatan apa?” Tanya Shinji penasaran.

“PERTAMA, GABUNGKAN TWIN F.B.L MU DENGAN TWIN BLADES” DEVIL menginstruksikan dengan datar. Shinji mengeluarkan senjata Twin F.B.L dan twin blades nya secara bersamaan, tiba-tiba kedua senjata itu bergabung dengan sendirinya membentuk senjata baru.

“Ehh? Apa ini?” Kaget Shinji melihat senjata gabungan nya.

“SENJATA TERKUATMU, ‘DRAGONBREATH’ RAILGUN” Devil menjelaskan dengan datar.

“SERTA, SUPER-TECH SOLDIER ABILITY” Lanjut DEVIL menjelaskan.

“Apa itu tadi... Super a-ba-ba-liti soliter?” Tanya Shinji tidak mendengar dengan jelas suara DEVIL tadi.

“SUPER-TECH SOLDIER ABILITY. INI ADALAH TEKNOLOGI BUATAN AYAHMU DENGAN MENINGKATKAN KEKUATAN DAYA TEMPUR IS MENJADI 10 KALI LIPAT DARI DAYA TEMPUR NORMAL” DEVIL menjelaskan lagi.

“Keren! Tapi kenapa kau tidak bilang dari tadi?” Shinji kagum bercampur jengkel karena baru tahu.

“KARENA... KEMAMPUAN INI SANGAT BERESIKO BAGI PILOT IS ITU SENDIRI. KEMAMPUAN INI MEMAKSA MENGELUARKAN SELURUH KEKUATAN BAIK DARI IS ITU SENDIRI DAN PILOTNYA” Jawab jelas DEVIL.

“Dengan kata lain, menguras tenaga ya?” Tanya Shinji lagi seraya mulai paham.

“TEPAT SEKALI” Jawab DEVIL singkat.

“Baiklah, kalau cuma sekali pakai tidak masalahkan?” Shinji langsung mengunci target musuhnya dengan senjata Railgun nya.

“Oi kamu! Menyingkir dari tembakanku!” Shinji memperingatkan teknisi mesin yang masih bertarung dengan kedua Unmanned IS untuk menghindar. Melihat Shinji yang memegang Railgun teknisi mesin itu jadi paham apa maksudnya dan terbang mundur.

“[TARGET ANNIHILATED]” DEVIL mengaktifkan salah satu super-tech soldier ability tepat sebelum Shinji menembakan Railgun nya.

“Apa ini? Tiba-tiba, rasanya genggaman senjataku jadi mantab dan aku semakin yakin untuk menyerangnya!” Kagum Shinji melihat targetnya melalui lock-on target optical lense.

Shinji langsung menembakan Railgun nya tepat kearah 2 Unmanned IS yang sedang berjejer tadi, meninggalkan bekas lubang rel dari tembakannya dan menghancurkan Unmanned IS itu hingga berkeping-keping hingga membuat lubang besar menembus dinding stadion.

“H-Hebat...” Kaget Shinji melihat bekas tembakannya.

Fanfic IS
Chapter 4 part 8
Sambutan kemenangan itu tidak berlangsung lama, hingga ada sesuatu yang jatuh dari langit seperti meteor mendarat dilapangan itu sekitar 4 buah.

“Apa itu? Meteor ya?” Shinji bertanya sekaligus kaget dan penasaran.

“Bukan! Itu...” Ichika terkejut karena menyadari apa itu sebenarnya.

“Orimura-san! Itu...” Yamada-sensei juga terkejut menyadari benda jatuh itu sebenarnya dari ruangan operatornya.

“Trevary! Masomi! Cepat kembali ke hangar sekarang!” Chifuyu-sensei langsung menyuruh mereka untuk kembali dari suara speaker nya.

“Apa itu sebenar- UWAH!” Shinji yang masih penasaran ingin mendekat melihat benda jatuh tadi hingga tiba-tiba tribun penonton nya tertutupi oleh dinding besi darurat mengunci semua orang didalamnya.

“Kenapa ini? Ada apa sebenarnya?” Panik Shinji yang tidak mengerti apa yang terjadi.

“Sudah kuduga” Tanggap Ichika dengan serius.

“Kau tahu ini, Ichika?” Tanya Shinji pada Ichika yang mengetahui masalah tersebut.

“Unmanned IS” Charlotte menjawab langsung.

“Apa itu Unmanned IS?” Tanya Shinji lagi.

“Bisa dibilang, itu adalah IS yang dikendalikan tanpa awak pilot” Jawab Ichika menjelaskan.

“Memangnya ada ya yang seperti itu?” Tanya Shinji lagi semakin penasaran.

“Dulu kupikir juga tidak mungkin. Hingga aku melawan nya sendiri hari itu” Jawab Ichika lagi sambil mengingat pertarungan nya dulu melawan Unmanned IS bersama Lin Yin.

Ditribun VIP sendiri para tamu mulai berbisik-bisik panik, terkecuali sang teknisi mesin yang dengan tenang mengutak-atik salah satu pintu keluar disana hingga berhasil terbuka.

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kumohon kalian semua tetap duduk tenang disini. Aku akan segera membawakan bala bantuan secepatnya!” Sebelum pergi keluar teknisi mesin itu menyuruh semua tamu VIP untuk tenang.

“Graves. Kau tahu tugasmu kan?” Pria tua yang duduk didekat teknisi mesin tadi sebelumnya mengingatkan sesuatu padanya.

“Yes, I know it” Jawab teknisi mesin itu dan langsung keluar melewati pintu yang terbuka tadi.

Kembali disalah satu tribun tempat Shinji dan murid-murid lain nya terperangkap Shinji berusaha untuk mencari jalan keluar.

“Jadi bagaimana kita sekarang?” Tanya Shinji dengan panik.

“Entahlah, salah satu cara untuk menghentikan semua ini hanyalah dengan mengalahkan semua Unmanned IS itu” Jawab Ichika dengan ragu.

“Jadi... Dengan mengalahkan 4 robot aneh itu semua orang disini bisa bebas?” Tanya Shinji lagi.

“Aku sendiri juga tidak tahu apa bisa atau tidak!” Balas Ichika dengan kesal.

“Cih, jadi kita terperangkap disini untuk beberapa lama ya?” Kesal Shinji juga pada dirinya sendiri.

“Jadi... Kita hanya bisa berharap pada anak kelas 1 itu?” Tanya Charlotte dengan rasa panik mengingat Alicia dan lawan nya yang masih ada diluar.

“B-Benar juga!” Kaget Shinji tersadar Alicia masih ada diluar.

Sementara itu sang teknisi mesin berusaha mencari jalan keluar dari stadion, hingga ia berhenti disalah satu hangar dan melihat Alicia dan lawan tandingnya tadi menghindari semua serangan dari ke-4 Unmanned IS itu, mereka kelihatan sangat kewalahan menghadapinya.

“Alicia!” Terkejut teknisi mesin itu melihat Alicia kesusahan menghadapi lawan barunya.

Teknisi mesin itu ingin berlari menyelamatkan Alicia, tapi langkahnya terhenti karena mengingat kejadian nya dimasa lalu.

“Tidak... Kekuatanku sekarang tidak cukup untuk melawan IS!” Bisik didalam hati teknisi mesin dengan ragu sambil membayangkan masa lalunya, dimana ia terlihat sekarat ditengah badai salju bersama dengan 4 orang lain nya yang sudah tewas dan melihat IS yang terbang menjauhi dirinya entah kemana.

Pikiran nya langsung berubah saat melihat Alicia terkena serangan laser beam dari salah Unmanned IS yang menembaknya.

“Ah!” Terkejut teknisi mesin itu melihat Alicia kena serang dari hangar dikejauhan.

“Benar... Tanpa tujuan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tugas dan tanggung jawabku adalah untuk melindunginya!” Teknisi mesin itu menyadari tugasnya dan keberanian nya langsung kembali bangkit.

Tepat sebelum teknisi mesin itu keluar mencari senjata, ia melihat sebuah IS, berwarna putih bercampur jingga, itu adalah Rafale Revive Costum II milik Charlotte.

“It’s seem sounds crazy but...” Pikir teknisi mesin itu ingin memakai IS itu.

Kembali ketempat Shinji berada, ia terlihat sedang berdebat dengan Ichika.

“Kita tidak bisa berdiam diri disini terus lama-lama! Kita harus menolongnya! Tidak mungkin mereka bisa menang melawan 4 IS sekaligus!” Protes kesal Shinji pada Ichika.

“Aku juga ingin menolong mereka! Tapi bagaimana caranya kalau kita terjebak disini?” Balas kesal Ichika mempertanyakan caranya.

“SIAL! Andai saja aku bisa menghancurkan dinding besi ini...” Shinji sudah sangat kesal pada dirinya sendiri sambil meninju dinding besi didepan nya.

“KALAU KAU INGIN MENGHANCURKAN DINDING ITU TANPA PERLU MERUSAK TANGANMU, KENAPA KAU TIDAK MEMAKAI IS SAJA?” Tiba-tiba suara DEVIL keluar dari device ditangan kiri Shinji.

“D! Tapi... Bagaimana?” Kaget Shinji mendengar suara DEVIL sekaligus bertanya.

“TENTU SAJA, KARENA AKU BISA TERHUBUNG BAIK DARI DEVICE MU ATAUPUN DARI IS” Jawab DEVIL datar.

“Tapi... Apa maksudmu tadi dengan memakai IS? Padahal IS ku kan disita?” Tanya Shinji lugu mendengar maksud DEVIL tadi sebelumnya.

“MUNGKIN SAJA IS MU DISITA, TAPI TIDAK DENGAN DEVICENYA BUKAN?” DEVIL langsung menjelaskan maksudnya.

“Benar juga! Berarti aku bisa menggunakan IS ku walaupun sedang disita?” Shinji memahami maksud DEVIL sambil memandang device ditangan kirinya.

“TEPAT SEKALI” Balas DEVIL datar.

“Tapi... Bukankah kau tidak boleh memakai IS tanpa seizin guru?” Tanya Charlotte pada Shinji dengan agak ragu.

“Heh, siapa yang peduli dengan peraturan bila nyawa seseorang dalam bahaya, Cha-chan?” Jawab balik Shinji dengan serius.

“Ehh?” Bingung Charlotte dan Ichika bersama bercampur kagum.

“Aku tidak peduli dengan peraturan atau nyawaku sendiri, asalkan aku bisa membuat orang lain bahagia, AKU RELA MELAKUKAN APAPUN!” Shinji langsung menyerukan diri.

Shinji mengepalkan tinju ditangan kirinya dan langsung membuat posisi tangan menyilang lalu menekan tombol touchscreen bertulisan ‘Called IS’.

“Keluarlah! Red Dragon!” Teriak Shinji memanggil IS nya.

Tubuh Shinji langsung dikelilingi dengan cahaya berwarna merah membentuk armor IS disekujur tubuhnya hingga terpasang sempurna.

“D, apa IS ini memiliki senjata?” Tanya Shinji langsung kepada DEVIL dari IS nya.

“SILAHKAN DIPILIH!” Dari layar hologram didepan mata Shinji muncul 3 buah senjata, yang satu adalah 2 buah pedang berwarna hitam, ditengahnya ada senjata sejenis assault rifle, dan dibawahnya ada senjata yang Shinji tidak begitu kenal apa itu.

“Berikan aku pedang!” Perintah Shinji kepada DEVIL setelah melihat senjatanya.

“BAIK” Balas DEVIL datar.

Dari kedua sisi sayap IS Shinji keluar gangang pedang dan langsung diambil Shinji segera membentuk pedang.

“Semuanya mundur!” Sambil memainkan kedua pedangnya dengan memutar-mutarnya Shinji menyuruh orang-orang yang didekatnya untuk menghindar.

Fanfic IS
Chapter 4 part 7
Setelah teknisi mesin itu pergi, Shinji keluar dari persembunyian nya dan melanjutkan perjalanan nya pulang kekamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika Shinji bertemu dengan Charlotte ditengah jalan.

"Ah, Shinji-kun sedang apa kau disini?" Tanya Charlotte kepada Shinji.

"Tidak ada. Cuma ingin pulang kekamar saja sehabis menjalani hukuman, Cha-chan" Jawab Shinji memanggil Charlotte dengan Cha-chan.

"C-Cha-chan?" Bingung Charlotte dipanggil Shinji dengan panggilan Cha-chan.

"Itu sebagai balasan karena kau memanggilku Shinji-kun. Supaya kita impas memiliki nama panggilan" Jawab Shinji menjelaskan dengan santai.

"Hehe… Kamu orang yang unik ya?" Charlotte tertawa kecil seraya tidak mempermasalahkan nama panggilan nya.

"Hmm… Entahlah apa aku ini. Ngomong-ngomong sedang apa kau disini?" Shinji juga tidak terlalu mempermasalahkan nya sekaligus bertanya pada Charlotte.

"Sebenarnya, aku kesini ingin latihan dengan IS ku. Tapi karena stadion nya dipakai oleh anak kelas 1 jadi aku terpaksa menunggu dulu" Jawab Charlotte menjelaskan.

"Yah, tak apalah. Sesekali mengalah pada junior tak masalahkan?" Balas Shinji santai.

"Ehh... Kau tidak mau melihat anak kelas 1 latihan ya?" Tanya Charlotte seraya mengajak Shinji.

"Yah, karena aku juga tidak ada kerjaan dikamar bolehlah!" Shinji langsung menerima ajakan Charlotte.

Charlotte dan Shinji akhirnya jalan bersama menuju tribun penonton, disana terlihat ada cukup banyak anak kelas 1, sebagian kelas 2 dan kelas 3 serta para tamu VIP yang duduk dikursi VIP nya ingin menyaksikan latihan tanding itu. Shinji juga memiliki alasan tersendiri mengapa ingin menonton pertandingan itu karena penasaran dengan Alicia. Setelah Shinji dan Charlotte memilih tempat duduk yang bagus tak lama Ichika datang menyapai mereka.

"Char! Maaf aku terlambat!" Ichika memanggil Charlotte sambil minta maaf.

"Tidak apa, pertandingan nya belum mulai kok" Balas sapa Charlotte.

"Oi, kau tidak menyapaku ya Ichika?" Tanya Shinji merasa dilupakan oleh Ichika.

"Ahh iya, maaf Shinji aku tidak tahu kau ada disini" Ichika meminta maaf pada Shinji setelah menyadarinya dan langsung duduk dekat dengan Charlotte.

"Ngomong-ngomong, disini tidak ada penjual makanan keliling ya?" Tanya Shinji lugu memandang seraya berkeluh-kesah.

"Kau kira ini stadion sepak bola ya?" Balas Ichika langsung.

"Yah... bisa sajakan kalau ada yang lapar dan haus kita bisa beli langsung darinya" Balas balik Shinji seraya menyarankan. Charlotte hanya tertawa kecil saja mendengar pembicaraan Shinji dan Ichika.

Tak lama selagi mereka berbincang terdengar suara Chifuyu mengumumkan pertandingan nya.

"Baiklah, sebentar lagi kita akan mengadakan latihan tanding dari kelas 1-1. Dengan peserta Alicia Trevary, kadet dari Amerika Serikat melawan Himura Masomi, kadet dari Jepang. Para peserta diharapkan keluar dari pit segera!" Chifuyu langsung memanggil peserta latih tanding dari ruangan operatornya.

Dari 2 sisi hangar yang berlawanan muncul 2 pilot IS, yang satu adalah Alicia dengan IS warna putih hampir mirip dengan IS Shinji, yang membedakan nya hanyalah bagian warna, helm dan body armor nya yang terbuka dan bertanduk biru satu. Sedangkan disisi lain adalah anak kelas 1 yang Shinji tidak begitu kenal dengan memakai IS biasa.

"P-Personal IS ya?" Kaget Ichika melihat IS Alicia.

"Wah... Cantiknya" Charlotte terkagum dengan IS Alicia yang berwarna putih mengkilap.

"Tapi... Entah mengapa IS nya hampir mirip dengan IS ku!" Curiga Shinji melihat IS Alicia.

"B-Benar juga. Sekilas memang agak mirip dengan Red Dragon mu" Balas Ichika mulai menyadarinya.

"Kalau tidak salah dengar, IS itu adalah Generation 4th IS buatan Amerika" Balas Charlotte juga menjelaskan.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong dimana teknisi mesin itu ya?" Angguk Shinji mengerti seraya mengingat teknisi mesin tadi yang ingin menonton Alicia bertanding sambil memandang sekeliling. Shinji akhirnya menemukan teknisi mesin itu sedang berdiri memandang Alicia disalah satu tribun VIP disamping seorang pria tua yang kelihatan sangat berwibawa, Shinji menduga kemungkinan orang itu adalah ayah dari sang teknisi mesin dan Alicia.

"Pertarungan dimulai!" Pikiran Shinji terganggu ketika mendengar teriakan Chifuyu dari speaker memulai pertandingan.

Alicia langsung mengeluarkan senjata pedang biru berlapis kristal hijau bening ditangan kirinya dan perisai ditangan kanan nya. Murid lawan nya langsung menyerang Alicia dengan pedang katana nya dengan cepat, tapi hal itu sudah diantisipasi oleh Alicia dan langsung menangkis serangan itu dengan perisainya.

"Heh, kurang cepat!" Alicia meremehkan serangan lawan nya dan membalik serang memukul mundur dengan perisainya hingga lawan nya terpental.

"Wow! Shield bash!" Mata Shinji mendelik kagum melihat serangan Alicia.

"Shield bash?" Bingung Ichika yang tidak mengerti kenapa Shinji malah kagum melihatnya.

"Itu teknik serangan dengan menggunakan perisai sebagai senjatanya! Lebih tepatnya mendobrak lawan menggunakan perisai!" Shinji menjelaskan sambil menirukan gerakan nya.

"Darimana kau belajar itu?" Tanya Ichika curiga.

"Dari video game" Jawab Shinji lugu.

"Sudah kuduga" Balas Ichika kecurigaan nya benar.

Kembali pada pertarungan, Alicia memimpin pertarungan tersebut. Beberapa kali lawan nya menyerang dengan katana nya tapi selalu ditangkis dengan baik oleh Alicia dan langsung dibalas balik dengan perisai ataupun dengan pedangnya.

"Hmm... Dengan menggunakan senjata pedang dan perisai dia memiliki kekuatan serangan dan pertahanan yang seimbang. Tapi kelemahan nya dia hanya memiliki serangan untuk jarak dekat saja" Komentar Shinji menilai IS Alicia.

"Tapi lawan nya sama-sama memiliki serangan jarak dekatkan?" Tanya Charlotte pada Shinji.

"Memang, tapi perbedaan nya terletak pada senjatanya Cha-chan. Dia menggunakan pedang dan perisai, jadi dia bisa menangkis serangan lawan dengan mudah dengan perisainya dan menyerang balik dengan tebasan pedang atau pukulan perisainya. Sedangkan lawan nya hanya menggunakan senjata pedang tanpa pertahanan lain nya, terkecuali kalau dia sangat gesit saat menghindari serangan baliknya" Shinji menjelaskan sambil menunjuk Alicia dan lawan nya.

Pertarungan semakin sengit dan lawan Alicia sudah hampir kehabisan Energy Shield nya. Alicia langsung mengeluarkan serangan terakhirnya dengan pukulan dari perisainya dan dilanjutkan dengan tebasan energy blade dari pedangnya. Alicia menang sempurna tanpa kekurangan Energy Shield sedikitpun.

"Tidak buruk, untuk anak kelas 1" Shinji bertepuk tangan sekaligus kagum pada Alicia diikuti dengan sorak riuh dari penonton lain nya.

"Bagus sekali, Alicia" Disatu sisi ditribun VIP teknisi mesin pun juga memuji penampilan Alicia.

"Hah, aku kalah" Keluh menyesal lawan Alicia.

"Tadi itu pertarungan yang hebat, kuharap suatu hari nanti kita bisa bertarung lagi" Balas Alicia sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Ya, saat itu juga aku tidak akan kalah lagi darimu Trevary!" Balas lawan nya lagi dan langsung berjabat tangan dengan Alicia.

"Heh, respect your enemy ya?" Gumam teknisi mesin itu sendirian.

Fanfic IS
Chapter 4 part 6

Selesai Shinji mengembalikan tongkat pel dan ember diruang kebersihan gedung stadion ia berencana untuk kembali pulang kekamarnya. Hingga tepat sebelum Shinji keluar gedung ia melihat teknisi mesin dan Alicia yang memakai pakaian latihan IS berwarna putih bergaris biru disalah satu koridor sedang membicarakan sesuatu. Penasaran apa yang mereka bicarakan Shinji diam-diam menguping pembicaraan mereka.

"Rasanya… Agak memalukan memakai baju ini" Keluh Alicia memakai pakaian latihan IS nya yang seperti pakaian renang.

"Jangan salahkan aku, tanyakan pada pihak akademi ini kenapa pakaian latihan nya seperti baju renang" Balas teknisi mesin itu tidak terlalu mempermasalahkan nya.

"Yah… Sebenarnya bukan itu juga permasalahnya" Balas Alicia malu-malu.

"Jadi kenapa?" Tanya teknisi mesin dengan halus.

"Ini… Pertama kalinya aku menaiki IS. Aku… Entah kenapa rasanya jadi agak takut" Dengan gemetaran Alicia menjawab.

Teknisi mesin langsung tersenyum bangga dan langsung mengelus kepala Alicia dengan lembut.

"Aku mengerti perasaanmu" Sambil tersenyum teknisi mesin itu membalas jawaban Alicia.

"Dulu… Sewaktu aku pertama kali memegang senjata aku juga mengalami pengalaman yang sama sepertimu" Teknisi mesin mengingat masa lalunya pada Alicia.

"Ada perasaan yang bercampur didalam hatiku saat menerima senjata itu. Senang menerimanya karena aku mendapatkan sesuatu yang menarik, takut karena benda itu berbahaya dan benci karena benda itu adalah pembunuh" Lanjut teknisi mesin itu melanjutkan kisahnya.

"Tapi pada akhirnya, aku mengatasi kegundahan itu. Sehingga aku bisa menggunakan senjata itu dengan benar" Selesai teknisi mesinmengakhiri kisahnya.

"Bagaimana, caranya kakak mengatasi kegundahan itu?" Tanya Alicia penasaran.

"Tujuan. Tanpa adanya tujuan kau memegang senjata itu maka kau akan ragu untuk menggunakan nya" Jawab teknisi mesin.

"Sama seperti aku disini, bertugas untuk menjagamu" Lanjut jawabnya lagi.

"Kau ingatkan kenapa kau ingin masuk ke akademi ini?" Tanya teknisi mesin langsung pada Alicia.

"Ya! Aku ingin membuat ayah bangga dengan menjadi pilot IS untuk Brotherhood suatu hari nanti!" Jawab Alicia dengan semangat.

"Kalau begitu tunjukanlah! Gunakan IS mu dan bertarunglah disana! Capailah tujuanmu itu!" Teknisi mesin itu berteriak menyemangati Alicia.

"YA! AKU AKAN MENUNJUKAN KEPADA AYAH KALAU AKU BISA!" Teriak Alicia juga seraya menyuarakan janjinya.

"Itu baru yang namanya semangat!" Lanjut dukung teknisi mesin.

"Ehehe, ini semua berkat kakak, aku jadi memiliki keberanian lagi sekarang" Balas Alicia seraya berterima kasih.

"Nah… Sekarang pergilah kesana. Naiki IS mu dan tunjukan pada mereka. Aku akan mendukungmu di tribun" Teknisi mesin menyemangati Alicia lagi.

"Ya! Aku akan berjuang!" Alicia langsung pergi berlari dengan semangat menuju pit sambil melambaikan tangan.

"Ahh… Kuharap aku juga punya adik perempuan" Bisik Shinji sendirian membayangkan dirinya memiliki seorang adik.

Fanfic IS
Chapter 4 part 5
Shinji akhirnya menjalani hukuman nya membersihkan gedung stadion. Dari sana Shinji bisa mendengar suara mesin jet dan ledakan senjata dari lapangan disebelah gedung stadion itu, mengingat pelajaran praktik diluar lapangan seperti yang dikatakan Chifuyu sebelumnya.

Dengan tongkat pel lantai dan ember berisi air Shinji berputar mengelilingi gedung mengepel lantai, dilanjutkan dengan membersihkan jendela kaca disekitar gedung itu. Lama akhirnya Shinji membersihkan seluruh gedung itu dengan bersih sempurna.

"Heh... Semua sudah beres. Tinggal apa lagi ya?" Bingung Shinji sendirian apa yang harus dilakukan nya lagi.

Shinji akhirnya menghabiskan waktu luangnya dengan bermain-main, dari bermain sliding dilantai yang licin hingga menirukan tarian dan nyanyian dari seorang bintang.

Tak lama Shinji bermain-main bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, menandakan waktu bermain Shinji sudah habis.

"Yap. Bel berbunyi dan saatnya memberikan laporan!" Semangat Shinji langsung mengangkat tongkat pel dan ember seraya ingin memberitahukan hasil kerjanya pada Chifuyu.

Baru berjalan dikoridor stadion Shinji langsung bertemu dengan Chifuyu yang kebetulan juga jalan bersama dengan Yamada langsung memberikan laporan padanya.

"Lapor! Tugas hukuman sudah dijalankan!" Shinji langsung melaporkan diri pada Chifuyu sambil mengangkat tangan tanda hormat.

"Ya... Kuakui kerjamu sangat memuaskan" Kagum Chifuyu-sensei sambil melihat sekeliling koridor stadion yang terlihat bersih mengkilap.

"Hehe, baguskan?" Senyum bangga Shinji pada Chifuyu.

"Aku tidak tahu darimana kau dapat stamina sebanyak itu, tapi sesuai peraturan bila seseorang telah menuntaskan hukuman nya dia boleh pergi" Balas Chifuyu penasaran seraya menerangkan.

"Heh, baguslah kalau begitu. Tapi kenapa anda semua ada disini?" Hela nafas lega Shinji setelah mendengar perkataan Chifuyu dilanjutkan dengan bertanya pada mereka.

"Kami akan mengoperatorkan IS baru punya anak kelas 1, karena itu kami mau pergi keruang operator stadion sekarang" Jawab Yamada dengan halus.

"Ahh, ngomong-ngomong soal IS bagaimana dengan IS ku?" Shinji langsung mengalihkan pertanyaan nya mengenai IS nya.

"Kami belum bisa mengkonfirmasikan nya sekarang, tapi kalau terbukti itu adalah IS illegal kami terpaksa harus menghancurkan nya" Jawab Chifuyu langsung seraya memperingatkan.

"EHH? Aku tidak mau sampai dihancurkan!" Protes Shinji seraya membayangkan IS nya diremukan oleh mesin penghancur sampah.

"Bersabarlah, Sanada. Kami akan berusaha untuk mencari kebenaran IS itu supaya kau bisa menaikinya lagi" Hibur Yamada pada Shinji.

"Yamada-sensei, anda baik sekali!" Shinji dari dalam hati ingin terharu mendengarkan perkataan Yamada.

"Baiklah, sebaiknya kita juga cepat Yamada-sensei, para tamu VIP pasti juga sedang menunggu" Chifuyu langsung mengembalikan topik permasalahnya pada Yamada.

"Baik. Sampai nanti Sanada" Yamada menuruti perintah Chifuyu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang operator seraya pamit dengan Shinji.

"Berapa lama lagi supaya aku bisa memakai IS ku lagi?" Pikir Shinji dalam hati seraya pergi mengembalikan tongkat pel dan embernya.

Fanfic IS
Chapter 4 part 4
Sekembalinya kekelas, bel masuk kelas belum berbunyi. Selain itu dikelas saat itu tidak ada orang selain Ichika dan Shinji. Memanfaatkan kesempatan itu Shinji kembali kekolong meja guru dan membuka pintu kecil tempat komponen komputer sebelumnya. Kali ini Shinji merusak komponen itu dengan palu.

"Heheh... Biar dia kerepotan mengurusinya!" Tertawa licik Shinji melihat kerusakan yang diperbuatnya.

"Oi! Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Ichika yang mulai takut.

"Kau belum merasakan apa yang disebut kenakalan remaja ya?" Tanya Shinji balik.

"Yah... Selama ini belum" Jawab Ichika dengan lugu.

"Kalau begitu biar kutunjukan, asal kamu diam saat ada yang bertanya soal masalah ini maka semua akan baik-baik saja!" Balas Shinji setelah menutup pintu komponen komputernya seraya mengancam Ichika untuk tutup mulut.

"Tapi... Merusak properti sekolah..." Ichika mulai ragu untuk menjawabnya.

"Kalau bukan masalah bukan nakal namanya!" Sahut balik Shinji.

Akhirnya bel masuk kelas berbunyi, Shinji dengan suasana senang tapi menyimpan sedikit kejahatan langsung kembali ketempat duduknya. Ichika terpaksa berdiam diri mengenai masalah yang sebenarnya bukan urusan nya. Tak lama semua murid kembali ketempat duduknya masing-masing, diikuti dengan guru mata pelajaran selanjutnya yang ternyata adalah Chifuyu.

"Baiklah semuanya, hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kemarin mengenai sistem add-on weapon IS" Chifuyu langsung saja memulai pelajaran nya tanpa sapaan. Chifuyu mulai menghidupkan komputernya, tapi tidak mau menyala.

"Kenapa ini?" Bingung Chifuyu karena komputernya telah dirusak Shinji tanpa sepengetahuan nya. Beberapa kali Chifuyu-sensei mengutak-atik komputernya seperti Yamada tadi pagi tapi belum juga berfungsi.

Semua murid mulai berbisik-bisik lagi mengenai kerusakan komputer guru itu, seeakan ada sesuatu yang mistis dibalik itu semua, terkecuali Ichika yang melihatnya sendiri siapa pelaku dibalik itu semua. Dilain pihak Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura langsung mendelikan mata mereka kearah Shinji seraya curiga siapa pelakunya.

"Orang itu... Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran nya?" Jengkel Houki dalam hati melihat Shinji yang sedang tertawa senang melihat Chifuyu yang sedang kesusahan.

Tak lama teknisi mesin melewati kelas itu lagi, Chifuyu langsung memanggilnya.

"Hei kamu! Kemari!" Chifuyu-sensei memanggil teknisi mesin itu.

Ia pun langsung berbalik arah menemui Chifuyu.

"Ya? Ada yang bisa kubantu?" Tanya teknisi mesin itu dengan sopan.

"Aku ada sedikit masalah disini. Kau bisa bantu?" Tanya Chifuyu balik.

"Selama tugasnya sesuai dengan profesiku, aku bisa bantu" Jawab teknisi mesin dengan dingin.

"Dan ini memang berhubungan dengan profesimu" Balas Chifuyu dengan dingin juga. Chifuyu langsung mengajak teknisi mesin kedalam kelas.

"Seingatku tadi pagi ada masalah seperti ini juga?" Curiga teknisi mesin menyadari masalah tadi pagi sebelumnya.

"Benarkah?" Tanya Chifuyu.

"Ya, guru berambut hijau berkacamata tadi pagi ada memanggilku untuk memperbaiki masalah yang sama" Jawab teknisi mesin itu dengan jelas.

Tanpa berpikir lama ia kembali membuka pintu tempat komponen komputer berasal, setelah membukanya terlihat komponen-komponen komputernya sudah rusak berat, bukan nya teracak-acak seperti pagi sebelumnya.

"Hmm... Sepertinya tikus penghuni lubang ini tidak senang bila rumahnya dirapikan" Curiga teknisi mesin itu melihat kerusakan nya yang makin parah.

"Tikus? Apa makhluk itu pelakunya?" Tanya Chifuyu yang penasaran apa yang dimaksud teknisi mesin.

"Bukan nya apa-apa, itu hanya sebuah kiasan" Jawab teknisi mesin.

"Jadi... Bagaimana?" Tanya Chifuyu kembali kepada kerusakan komputernya.

"Parah" Jawabnya singkat.

"Perlu berapa lama supaya bisa digunakan lagi?" Tanya Chifuyu lagi.

"Supaya bisa berfungsi seperti semula kira-kira paling cepat 2 hari, atau yang paling lama seminggu. Tergantung kondisi dan keadaan" Jawab teknisi mesin itu dengan jelas.

"Jadi artinya kelas ini tidak bisa digunakan untuk beberapa saat?" Tanya Chifuyu seraya butuh penjelasan lagi.

"Bisa saja selama pelajaran nya tidak membutuhkan komputer untuk beberapa hari kedepan" Jawab teknisi mesin menjelaskan.

Sementara itu Shinji tertawa kecil sendirian tanpa disadari orang-orang disekelilingnya, membayangkan sang teknisi mesin kerepotan memperbaiki komputer itu untuk beberapa hari, sesuai dengan perencanaan Shinji untuk membuat teknisi mesin itu merana.

"Heh… Terpaksa aku harus mengajar diluar kelas dihari panas ini" Hela nafas lesu Chifuyu sambil melihat jendela keluar, memang saat itu matahari siang sudah panas.

"Baiklah semuanya! Kita langsung adakan praktek add-on weapon IS diluar kelas! Persiapkan pakaian latihan dan IS kalian!" Chifuyu langsung memerintahkan semua murid untuk belajar diluar kelas, diikuti dengan suara lemas kecewa karena terpaksa belajar diluar kelas dihari yang panas.

"Yah… Walaupun tidak berjalan sesuai rencana sesungguhnya tapi setidaknya aku sudah cukup puas membuat teknisi mesin sialan itu sengsara!" Pikir Shinji didalam hatinya sendirian.

"Tunggu dulu!" Tepat sebelum semua murid keluar kelas teknisi mesin langsung menghentikan mereka.

"Ada apa?" Tanya Chifuyu.

"Tidak, aku hanya curiga bila tikusnya masih ada disekitar sini" Jawab teknisi mesin.

"Maksudmu?" Tanya Chifuyu yang bingung dengan maksud teknisi mesin itu.

"Yah… Anda tahu sendirikan seekor tikus tidak mungkin bisa menghancurkan komponen komputer ini dengan tangan kecilnya hingga rusak kan?" Teknisi mesin itu menjelaskan maksudnya dengan sedikit kiasan.

"Maksudmu kau curiga bila pelakunya ada diantara mereka?" Curiga Chifuyu mendelikan matanya kepada semua murid yang masih berdiri dikursi mereka dengan rasa agak takut bila dituduh melakukan nya.

"Mungkin, tapi kita tidak bisa memastikan nya siapa pelakunya" Balas teknisi mesin itu seraya berpikir.

Sebentar berpikir teknisi mesin langsung mendekatkan mulutnya kedekat telinga Chifuyu membisikan sesuatu padanya. Chifuyu hanya menjawabnya dengan mengangguk seraya menyetujui sesuatu.

"Baiklah kalian semua! Sebaiknya kalian mengaku siapa yang merusak komputer ini! Kalau tidak, kalian semua akan kuhukum lari keliling pulau ini 100 kali!" Teriak Chifuyu-sensei langsung mengancam seluruh isi kelas untuk mengaku.

Seluruh isi kelas langsung berisik karena panik mendengar ancaman Chifuyu. Mereka saling menuduh satu sama sama lain nya untuk mengaku. Hingga akhirnya Ichika serta Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura langsung menunjuk Shinji yang berdiam diri berpura-pura tidak tahu apa-apa.

"Shinji Sanada pelakunya! Aku melihatnya tadi pagi ada merusak komputernya!" Jawab jujur Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura sambil menunjuk Shinji.

"Dan siang ini dia membuatnya jadi tambah parah" Ichika menambahkan kesaksian nya dengan terpaksa karena takut dihukum.

"KALIAN SEMUA PENGKHIA- Ups!" Teriak kesal Shinji tanpa sengaja mengakui perbuatan nya.

"Heh, sang tikus akhirnya mati kena perangkap" Teknisi mesin memberikan ungkapan lagi.

"Dan sepertinya aku mengenal tikus itu" Balas Chifuyu memandangi Shinji dengan kejam.

"Mati aku…" Shinji bicara sendirian sambil meneguk liurnya sendiri melihat Chifuyu.

"Sanada! Sebagai hukuman karena sudah merusak peralatan sekolah, kau dihukum membersihkan gedung stadion sekarang!" Teriak Chifuyu menghukum Shinji.

"Hah, terpaksa deh" Shinji terpaksa menjalani hukuman nya langsung berdiri dengan gaya malas-malasan berjalan keluar kelas.

"Jaga sikapmu itu!" Chifuyu memperingatkan Shinji yang berjalan malas keluar kelas.

"Dan yang lain nya, persiapkan diri kalian untuk praktek dilapangan nanti!" Lanjut Chifuyu menyuruh murid-murid lain nya.

Fanfic IS
Chapter 4 part 3
Bel tanda istirahat berbunyi, singkat pada saat itu Shinji bersama dengan Ichika duduk berbincang sambil makan siang dikantin. Shinji meluapkan kekesalan nya pada si teknisi mesin kepada Ichika.

"Heh, aku tidak bisa membiarkan dia!" Luap kekesalan Shinji pada Ichika sambil makan nasi goreng dengan tempura.

"Yah… Tapikan dia tidak ada salah apa-apa denganmu. Kenapa kau mesti kesal?" Tanya Ichika heran sambil makan bekal makan siang dengan telur dadar gulung.

"Tentu saja dia salah! Dia tidak mengerti bagaimana keadaan nya, kalau dia tidak ada kita sudah bisa dapat jam bebas pelajaran sekarang!" Jawab Shinji yang makin kesal mengingat teknisi mesin itu.

"Kau tadi bertujuan supaya tidak bisa belajar seharian ya?" Tanya Ichika lagi mengenai maksud Shinji saat menyabotase computer guru.

"Sebenarnya dua. Yang pertama karena aku mau membalas dendam karena sudah menyita Red Dragon, dan yang kedua karena memang aku tidak ingin belajar" Jawab Shinji santai.

"Kau bicara seakan ini sangat gampang melakukan nya" Ragu Ichika pada Shinji.

"Bukan nya karena gampang, tapi karena aku menikmatinya dengan senang hati" Balas Shinji santai sambil tersenyum dengan sumpit ditangan kanan nya diam-diam mengambil telur dadar gulung Ichika.

"Oi! Itu punyaku!" Kaget Ichika melihat telur dadar gulungnya yang mau siap dilahap Shinji.

"Aku cuma ambil satu saja! Pelit sekali!" Shinji berusaha mepertahankan telur dadar gulung 'curian' nya.

"Kalau begitu aku ambil tempura mu!" Ichika membalasnya dengan mengambil tempura Shinji.

"Hei! Itu potongan terakhirku! Jangan dimakan!" Shinji membalas untuk mempertahankan tempura nya.

"Setidaknya kita bisa tukaran!" Balas Ichika lagi.

"Aku tidak mau tukaran kalau ada sisa yang terakhir! Itulah salah satu jalan laki-laki ku!" Balas Shinji juga membela diri.

"Tapi kau mengambil telurku! Pelit sekali kau!" Balas Ichika yang mulai agak kesal.

"Tapi punyamu masih banyak, tidak masalahkan berbagi sedikit untuk orang lain?" Balas Shinji kembali.

Ichika dan Shinji akhirnya bertarung 'adu sumpit' berusaha mempertahankan makanan mereka, hingga akhirnya Shinji melihat sosok yang ia kenal.

Seseorang dengan pakaian teknisi berwarna hijau terang kebiruan dan wajah yang tertutupi oleh bayangan topinya, teknisi mesin yang sudah menjadi 'pengganggu' untuk Shinji sedang berjalan dengan nampan berisi hamburger dan minuman soda cola kesalah satu meja kantin agak jauh dari tempat Shinji duduk. Teknisi mesin itu menaruh nampan nya dimeja itu, tepat sebelum mengambil hamburger nya ia melihat tangan nya yang kotor entah oleh kenapa.

"Ah, aku cuci tangan dulu" Gumam teknisi mesin sendirian menyadari tangan kotornya dan pergi ketoilet didekat kantin untuk cuci tangan meninggalkan makanan nya sementara. Melihat teknisi mesin itu pergi meninggalkan makanan nya mata Shinji langsung mendelik pada hamburger nya dengan pikiran jahat.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan" Tebak Ichika melihat Shinji.

"Tepat sekali!" Jawab Shinji dengan nada jahil sambil mengeluarkan sebuah botol saus cabai berwarna merah dengan label tulisan 'All-World Chili Sauce'.

"Darimana kau mendapatkan itu?" Tanya Ichika penasaran melihat Shinji mengangkat botol itu.

"Dari dapur kantin" Jawab Shinji singkat.

"Kau ini suka seenaknya saja ya?" Bingung Ichika melihat perilaku Shinji.

"Aku tidak akan berhenti sampai dia merana!" Jawab Shinji dengan nada jahil. Shinji langsung berjalan diam-diam menuju meja tempat teknisi mesin tadi menaruh makanan nya. Sambil memandang sekelillingnya bila ada yang mengawasinya Shinji lalu membuka roti bagian atas hamburger nya dan menuangkan saus cabai keatas bagian dagingnya dan menutupnya kembali.

"Selamat menikmati" Salam Shinji pada hamburger itu dengan tertawa cekikikan dan kembali kemeja kantin nya bersama Ichika.

"Dasar kau ini, hati-hati jangan sampai kau kelewatan mengerjainya!" Setelah Shinji kembali Ichika langsung menasehatinya.

"Jangan khawatir, kalau cuma kepedasan tidak masalahkan?" Jawab Shinji dengan enteng.

Tak lama ada seseorang yang mendatangi meja itu, tapi bukan teknisi mesin yang datang, melainkan seorang gadis kecil berambut pirang panjang dengan pakaian seragam IS Academy berdasi merah.

"Ehh? Siapa itu?" Penasaran Shinji melihat gadis itu.

"Itu anak kelas satu kan?" Jawab Ichika yang juga penasaran.

"Ya, aku tahu soal itu. Tapi apa hubungan nya gadis kecil itu dengan teknisi mesin tadi?" Tanya Shinji balik.

"Entahlah. Mungkin karena tidak punya tempat duduk dia disitu atau karena dia itu adiknya?" Jawab Ichika memberikan pendapatnya.

Teknisi mesin akhirnya kembali dari kamar kecil sehabis cuci tangan, dilihatnya gadis kecil duduk didekat mejanya ia langsung terperanjak melihatnya.

"Alicia, sedang apa kau disini?" Tanya teknisi mesin melihat gadis itu yang bernama Alicia.

"Memangnya kenapa? Kakak tidak senang ya aku disini?" Tanya Alicia dengan sedih.

"Bukan nya begitu... Tapi golongan kita ini berbeda" Jawab teknisi mesin itu menjelaskan.

"Tapi... Bukankah kakak pernah bilang dulu kalau semua manusia didunia ini sama dan tidak ada yang dibeda-bedakan?" Tanya Alicia lagi seraya mengingatkan.

"Heh... Kau benar" Balas teknisi mesin itu dengan senang sambil mengelus kepala Alicia.

"Heh? Dia itu adiknya?" Kaget Shinji yang mendengar pembicaraan mereka.

"Memangnya ada yang salah dengan itu?" Tanya Ichika pada Shinji.

"Tentu saja salah! Dari wajahnya saja mereka itu tidak terlihat ada kemiripan sama sekali!" Jawab Shinji asal.

"Darimana kamu tahu wajah mereka tidak mirip? Padahal wajah orang itu tertutupi oleh topi?" Bantah Ichika mendengar jawaban Shinji yang tidak masuk akal.

Selagi Ichika dan Shinji berdebat tanpa disadari Alicia langsung mengambil hamburger milik teknisi mesin.

"Hei, itu punyaku" Teknisi mesin memberitahu sekaligus menunjuk hamburger yang dipegang Alicia.

"Sebenarnya tadi aku ada pesan spagetti, tapi karena terlalu lama aku makan punya kakak saja ya? Biar nanti spagetti nya kakak yang makan" Jawab Alicia sambil memohon.

Teknisi mesin itu hanya bisa tersenyum pasrah saja melihat makanan nya diambil.

Tepat saat Alicia mengigit hamburger itu ia mengalami kepedasan yang hebat.

"UAAAAHH! PEDASSS!" Teriak panik Alicia karena kepedasan. Shinji langsung kaget ketika mendengar teriakan Alicia.

"Alicia! Tenang dulu! Minum ini!" Dengan cepat tanggap teknisi mesin memberikan minuman cola pada Alicia untuk menghilangkan rasa pedasnya.

"Ahh... Kacau" Kecewa Shinji karena rencananya gagal sambil menempelkan tangan diwajah.

"Kakak tidak bilang kalau ada memasukan saus cabai didalamnya!" Kesal Alicia seraya mau menangis pada teknisi mesin.

"Tapi… Aku tidak ada memasukan saus cabai tadi! Lagipula kamu tahukan aku juga tidak suka makanan pedas?" Teknisi mesin berusaha membela diri seraya memberikan alasan nya.

"Lalu, kenapa hamburger ini rasanya pedas?" Tanya Alicia langsung sambil menjulurkan lidahnya yang terbakar pedas.

"Pasti ada orang yang usil disekitar sini!" Curiga teknisi mesin sambil memandang sekelilingnya.

Shinji yang saat itu melihat mereka sekaligus sudah selesai makan langsung pergi dari kantin seraya berpura-pura tidak tahu apa-apa diikuti dengan Ichika yang juga sudah selesai makan.

"Nah… Sekarang apa yang akan kau lakukan nanti?" Tanya Ichika yang curiga dengan gerak-gerik Shinji.

"Kau lihat saja dikelas nanti!" Dengan nada kesal bercampur jahil Shinji menjawab.

Fanfic IS
Chapter 4 part 2
Bel masuk kelas berbunyi, tersentak mereka langsung kembali duduk dikursi mereka masing-masing. Shinji berjalan kembali ketempat duduknya dengan tertawa puas kecil sendirian. Tak lama semua murid sudah masuk dan duduk ditempatnya hingga akhirnya Yamada-sensei datang untuk mengisi jam pelajaran pertama. Semua murid dikelas itu langsung berdiri hormat pada Yamada-sensei untuk memulai pelajaran pagi.

“Selamat pagi semuanya!” Sambut Yamada-sensei dengan semua murid dikelasnya.

“Pagi ini kita akan memulai pelajaran dasar yaitu...” Yamada-sensei langsung memulai pelajaran nya dengan meja komputernya, namun komputer dan hologram board nya tidak mau menyala.

Ternyata Shinji membalas dendam dengan merusak peralatan sekolah, ia hanya bisa tersenyum licik melihatnya disertai dengan Ichika dengan kelima teman lain nya yang juga memandangi Shinji seraya memahami apa yang dilakukan Shinji tadi sebenarnya.

“Ehh... Tunggu sebentar ya” Dengan agak panik Yamada-sensei berusaha mengutak-atik keyboard komputernya.

Hingga akhirnya secara kebetulan muncul seseorang dengan pakaian teknisi mesin berwarna hijau terang kebiruan beserta topinya dengan lambang IS Academy dilengan baju dan topinya membawa kotak perkakas ditangan kanan nya melewati kaca jendela luar kelas. Yamada-sensei kontan langsung memanggil teknisi yang kebetulan lewat itu.

“Ahh, maaf! Apa kau punya waktu?” Teriak Yamada-sensei keluar kelas memanggilnya.

Teknisi itu langsung berbalik arah menemui Yamada-sensei.

“Ya, cukup banyak” Jawab jujur teknisi mesin yang wajahnya tertutupi dengan bayang-bayang topinya.

“Kalau begitu, apa kau bisa bantu aku?” Tanya yamada-sensei meminta tolong.

“Selama tugasnya sesuai dengan profesiku, aku bisa bantu” Jawab teknisi dengan dingin.

“Kalau begitu kemari” Ajak Yamada-sensei masuk kedalam kelas.

“Apa... Kau bisa memperbaiki kerusakan ini? Komputer dan hologramnya tidak mau menyala” Beritahu Yamada-sensei mengenai masalahnya sambil menunjukan keyboard komputernya.

Teknisi itu berputar mengitari meja guru menganalisa mencari penyebab kerusakan nya.

“Tunggu sebentar” Lama berpikir teknisi langsung menunduk kekolong meja guru tempat komponen komputernya berasal yang dibongkar oleh Shinji. Teknisi mesin itu langsung membuka pintu kecil tempat komponen komputer berasal, ia melihat kejangalan pada motherboard komputer itu karena susunan komponen nya berantakan.

“Apa masalah ini sudah berlangsung lama?” Tanya teknisi itu kepada Yamada-sensei.

“Ehh... Baru pagi ini” Jawab Yamada-sensei.

“Mungkin penyebabnya oleh tikus yang lewat atau ada seseorang yang menyabotase semua ini” Teknisi itu memberikan kesimpulan permasalahan nya sambil memperbaiki komponen komputernya.

Shinji langsung tersentak kaget mendengar jawaban teknisi mesin itu seraya takut bila ketahuan.

“Yak, kurasa sudah bisa. Coba di test dulu” Selesai teknisi mesin memperbaikinya seraya menyuruh Yamada-sensei mencoba komputernya dan akhirnya komputer dan hologram nya bisa menyala kembali dengan baik.

“Wah... Syukurlah. Kukira bakal tidak bisa belajar nanti” Senang sekaligus lega Yamada-sensei melihat komputer guru kembali menyala.

“Jangan biarkan hal itu terjadi. Kalau tidak masa depan mereka semua ini bakal terancam hanya karena tidak bisa belajar selama beberapa hari” Balas teknisi itu seraya menasehati.

“Kau benar. Terima kasih atas bantuan nya” Yamada-sensei setuju dengan pendapat teknisi itu seraya menunduk terima kasih padanya.

“Tidak masalah. Aku hanya melakukan tugasku. Itu saja” Balas hormat teknisi itu.

“Kalau begitu, aku permisi dulu” Sang teknisi mesin langsung pamit pergi meninggalkan kelas.

Muka Shinji terlihat kesal melihat teknisi mesin itu karena rencana sabotasenya gagal karena seorang teknisi mesin, menciptakan api dendam pada orang itu.

“Ahh... Rencana ‘tidak belajar sehari’ gagal deh” Kecewa Shinji bicara sendirian diikuti dengan suara Yamada-sensei yang kembali melanjutkan pelajaran.

Fanfic IS
Chapter 4 part 1
Pagi esoknya setelah IS Shinji disita oleh para guru ia hanya terduduk lesu didalam ruangan kelasnya ditemani oleh Ichika, Houki, Lin Yin, Cecilia, Charlotte dan Laura yang berusaha untuk menghiburnya.

“Sudahlah. Mungkin kalau sudah selesai diperiksa kau bisa memakainya lagi” Ichika berusaha menghibur Shinji.

“Kalau mereka mau mengembalikan nya” Balas Shinji dengan muka murung.

“Baru IS nya disita sehari saja sudah begitu!” Berbalik dari menghibur Houki, Cecilia, Lin Yin dan Laura malah mencemoh Shinji.

“Kalian tidak mengerti bagaimana rasanya mendapatkan sebuah harta karun yang tiba-tiba langsung dirampok oleh para bandit ya?!” Balas Shinji dengan kesal sambil memberikan ungkapan.

“Tidak” Jawab Houki, Cecilia, Lin Yin dan Laura singkat.

“AHH!!! MENYEBALKAN! AKU MAU RED DRAGON KU KEMBALI!!!” Teriak kesal Shinji sendirian.

“Red Dragon?” Tanya Charlotte langsung.

“Ya, karena IS itu tidak ada dicantumkan nama makanya kuberi nama Red Dragon karena mirip dengan naga dan berwarna merah” Jawab Shinji dengan lesu.

Sejenak melamun Shinji langsung mengalihkan pandangan nya pada meja depan guru seraya berpikiran jahat.

“Hehe. Akan kutunjukan pada mereka jangan berani macam-macam pada Sanada!” Dengan wajah jahil Shinji langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja guru didepan nya. Ichika dan yang lain nya bingung apa yang akan dilakukan Shinji sebenarnya hanya melihatinya saja.

Shinji langsung menunduk kekolong meja guru, terlihat dibawahnya ada sesuatu seperti pintu kecil menutupi sesuatu. Shinji langsung mengambil obeng dari saku celananya dan membuka paksa dengan mulus pintu kecil itu, didalamnya ada sesuatu seperti komponen motherboard komputer yang sangat rumit. Shinji dengan asal langsung mengobrak-abrik isi komputer itu tapi tak merusaknya hingga berantakan. Puas dengan apa yang dilakukan nya Shinji kembali menutup pintu kecil itu dengan sangat mulus dan berdiri kaget ketika menyadari Ichika berserta Houki, Lin Yin, Cecilia, Charlotte dan Laura sudah berdiri dibelakangnya.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Houki terlihat was-was.

“Hehe, kau lihat saja saat jam pelajaran nanti” Jawab Shinji dengan tertawa jahil.

Fanfic IS
Chapter 3 part 10
Shinji langsung terbang menjauh dari kamar asramanya, terbang berkeliling mengitari pulau akademi itu dengan sangat cepat ditemani dengan cahaya sore yang mulai meredup ditelan malam.

"CHECK CONDITION. IS ARMOR: FINE. ENERGY SHIELD: FULL. CURRENT SPEEDS: 235 KM/H" DEVIL memberitahu kondisi IS Shinji saat itu.

"Wow! Cepat juga terbangnya!" Kagum Shinji melihat kecepatan nya di hologram screen IS nya.

Shinji melanjutkan terbangnya dengan trik manuver yang sangat mulus, sempat ia dilihat oleh para murid yang sedang ada diluar ataupun terlihat dari jendela gedung.

Shinji terus menikmati aksi terbangnya itu, hingga akhirnya ada 4 IS yang datang mencegat Shinji langsung, diantaranya ada Yamada-sensei.

"Cukup berhenti sampai disini dan siapa kamu?" Yamada-sensei datang dengan IS Rafale Revive Basic berwarna hijau tua mengancam Shinji dengan senjata rifle nya, ia tidak mengenali siapa pilot IS itu karena Shinji menggunakan helm.

"Sensei! Ini aku! Shinji Sanada!" Panik Shinji menjawabnya dengan suara mesin karena ditodong.

"Bohong! Tidak mungkin suara Sanada seserak itu!" Yamada-sensei tidak percaya dengan jawaban Shinji karena suaranya lain.

"Ini, apa anda percaya sekarang?" Helm IS Shinji terbuka otomatis membuktikan diri dengan menampakan wajahnya.

"Ehh... Tapi... Bagaimana bisa kau mendapatkan IS itu?" Terkejut Yamada-sensei mengetahui siapa pilotnya sekaligus bertanya mengenai IS itu.

"Ini hadiah dari ayahku. Bagaimana? Kerenkan?" Jawab Shinji dengan santai dan senang. Lama Yamada-sensei berpikir asal-muasal IS itu hingga akhirnya menyuruh Shinji untuk turun.

"Sanada. Kita bicarakan dulu dikantor sekarang!" Perintah Yamada-sensei dengan serius.

Shinji menuruti perintah gurunya dan pergi turun kedepan kantor guru ditemani dengan 3 penjaga lain nya. Sesampainya dibawah Yamada-sensei dan Shinji langsung melepas IS mereka, hingga akhirnya Chifuyu-sensei datang menghampiri mereka.

"Jadi ini ya?" Tanya Chifuyu-sensei dengan Yamada-sensei.

"Apa anda tahu sesuatu mengenai IS ini?" Tanya Yamada-sensei balik. Mata Chifuyu-sensei langsung mendelik tajam pada IS Shinji seakan itu adalah benda yang berbahaya.

"Darimana kau mendapatkan IS ini Sanada?" Tanya Chifuyu-sensei dengan serius pada Shinji.

"Dari kiriman ayahku. Memangnya kenapa?" Jawab Shinji dengan lugu.

"Apa pekerjaan ayahmu?" Tanya Chifuyu-sensei lagi.

"Pilot" Jawab Shinji singkat.

"Apa ayahmu memiliki hubungan dengan perusahaan khusus atau pihak militer?" Lanjut tanya Chifuyu-sensei lagi.

"Ehh... Sepertinya tidak ada" Jawab Shinji ragu karena tidak mengetahui betul tentang ayahnya.

"Kalau begitu, bawa IS itu!" Jawab Chifuyu-sensei seraya memutuskan hasilnya.

"Ehh! Kenapa?" Kaget Shinji karena tidak senang IS nya dibawa.

"Kami hanya memastikan saja apakah IS ini ada secara resmi atau illegal" Jawab Chifuyu-sensei dengan tegas.

"Memangnya ada masalah dengan itu?" Tanya Shinji seraya protes.

"Tentu saja Sanada. Karena dengan adanya IS baru maka akan mempengaruhi kekuatan militer tiap negara dan memiliki IS illegal juga akan mendapatkan sanksi hukuman yang sangat berat" Jawab Yamada-sensei dengan jelas dan halus.

"Begitu ya... Ehh! Berarti ayahku seorang kriminal dong!" Balas Shinji memahami maksud Yamada-sensei seraya meragukan keberadaan ayahnya.

"Kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti hingga kita selesai memeriksa IS ini" Jawab Chifuyu-sensei lagi.

Akhirnya IS Shinji dibawa masuk kedalam kantor itu oleh ketiga penjaga yang masih menggunakan IS diikuti dengan Chifuyu-sensei dan Yamada-sensei. Shinji hanya bisa memandangi IS nya dibawa masuk dengan muka kecewa dan pergi kembali kekamarnya dengan suasana suram.

Sementara itu sambil berjalan Yamada-sensei masih melanjutkan pembahasan IS Shinji dengan Chifuyu-sensei.

"Orimura-san, apa anda benar-benar tidak mengetahui tentang IS itu?" Tanya Yamada-sensei dengan agak ragu.

"Tidak. Tapi aku sendiri juga ragu kalau semua ini adalah perbuatan 'dia' " Jawab Chifuyu-sensei sambil menggelengkan kepala dengan rasa ragu juga.

Fanfic IS
Chapter 3 part 9
Shinji memasuki gedung asrama dan langsung menaiki lift menuju lantai 5 tempat dimana kamarnya tinggal. Sampai dilantai 5 Shinji melanjutkan lagi jalan nya hingga ia berhenti dipintu kamar nomor 565, Kamar tempat Shinji dan Ichika tinggal. Terlihat jelas ditulisan papan penghuninya tertera nama Shinji Sanada dan Ichika Orimura disamping pintunya. Shinji mencoba untuk menarik tuas pintunya mengecek bila Ichika belum pulang atau pintunya masih terkunci, tapi ternyata pintunya bisa terbuka dan terlihat Ichika yang sedang duduk ditempat tidurnya berserta kereta dorong yang sangat besar berisi beberapa kotak kardus.

"Aku pulang" Sahut Shinji pada Ichika.

"Selamat datang" Balas Ichika langsung.

"Ehh... kotak apa ini?" Tanya Shinji langsung mengalihkan perhatian nya melihat kereta dorong itu.

"Ah iya! Tadi Yamada-sensei ada datang kesini membawa kereta dorong ini. Katanya barang-barang ini untukmu" Jawab Ichika.

"Benarkah?" Shinji langsung senang sekaligus penasaran melihatnya.

"Coba saja kau buka" Balas Ichika yang juga ikut penasaran. Shinji memulainya dengan mengambil kotak besar yang besar memanjang.

"Hmm... Dugaanku ini pasti TV LCD slim 50 inch!" Shinji mencoba menebak isi kotak berwarna polos cokelat itu sambil menguncang-guncangkan nya. Setelah itu Ichika dan Shinji membuka sama-sama kotak itu dan ternyata dugaan Shinji benar isi nya adalah TV 50 inch.

"Wow keren! Dengan begini kita bisa nonton TV dengan kualitas terbaik!" Senang Shinji melihat TV barunya. Shinji melanjutkan mengambil kotak yang lain, kali ini berukuran sedang dan Shinji kembali mengguncangkan kotak itu lagi.

"Hmm... Kira-kira ini pasti game console!" Shinji kembali menebak isi kotaknya. Shinji langsung membuka kotak itu dan tebakan nya benar lagi, isinya adalah game console.

"Sempurna! Kalau tidak ada acara TV yang seru kita bisa main game bersama-sama!" Tambah senang Shinji melihatnya.

"Tapi... Siapa yang mengirimkan nya ya?" Tanya Ichika yang justru penasaran dengan sang pengirim.

"Mungkin ada surat atau sesuatu didalam sini?" Shinji yang penasaran siapa yang mengirimkan barang untuknya langsung mengobrak-abrik kereta dorong itu mencari petunjuk. Shinji melihat didasar kereta itu ada sepucuk surat didalamnya. Tanpa pikir panjang Shinji langsung membuka surat itu dan membacanya.


Quote:
Kepada anak ku, Shinji.

Ibu sudah mendengar kabarmu dari tempat penelitian bahwa kau sekarang bersekolah di IS Academy. APA? IS ACADEMY! Aku tak menyangka anak laki-laki ku satu-satunya ternyata masuk kesekolah yang ada banyak gadisnya?

Tapi... Ibu bukan nya bermaksud tidak senang dengan hal ini atau menyuruhmu untuk keluar dari tempat itu. Ibu sendiri juga tidak percaya bahwa kau menjadi salah satu sekian laki-laki didunia ini yang bisa mengendalikan Infinite Stratos, sama seperti pemuda yang bernama Orimura Ichika diberita itu. Mungkin kau berteman dengan nya sekarang?

Ibu hanya bisa mengucapkan selamat karena kau sudah kembali bersekolah lagi. Ibu berpikir apa kau sudah menemukan jawaban hidupmu disana? Atau kau masih ingin mencarinya ditempat itu?

Sebagai ucapan selamat ibu mengirimkan beberapa barang kesukaanmu dari rumah dan sebagian ibu belikan baru untukmu. Semoga kau senang melihatnya.

Salam sayang dari ibumu,

Miyuki Sanada

N.P : Semoga kau juga menemukan pasangan hidupmu untuk kedepan nya disana ^_^


"Semoga kau juga menemukan pasangan hidupmu untuk kedepan nya disana, ini memang tipikal ibuku" Selesai Shinji membacakan surat itu seraya malu membaca bagian akhirnya.

"Aku jadi penasaran seperti apa keluargamu itu?" Tanya Ichika penasaran.

"Mereka semua selalu sibuk, ibuku bekerja dikantor penelitian obat-obatan. Sedangkan ayahku bekerja sebagai pilot" Jawab Shinji datar sambil melanjutkan mengguncangkan kotak yang terlihat kecil seukuran lengan.

"Ini apa ya?" Kali ini Shinji tidak bisa menembak isi kotak itu. Shinji langsung menyobek kertas pembungkus kotak itu, tepat sebelum Shinji ingin membuka kotak itu terlihat kartu ucapan terjatuh setelah ia merobek kertas pembungkusnya.

"Apa ini?" Shinji yang bingung melihatnya langsung mengambil kartu itu dan membacanya.

Quote:
Untuk anak ku yang selama 16 tahun ini belum pernah satupun kukirimkan hadiah ulang tahun kepadamu.

Dari

Ayah


"Ayah..." Shinji mengakhiri membaca surat itu dengan nada sedih.

"A-Ada apa?" Tanya Ichika dengan agak cemas melihat ekspresi Shinji.

"Tidak apa. Aku hanya sedang membayangkan seperti apa ayahku sekarang" Jawab Shinji dengan sedih.

"Kau... Ada masalah dengan nya dulu?" Tanya Ichika lagi.

"Tidak, aku hanya belum pernah melihat wajahnya saja seumur hidupku ini. Mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sehingga belum sempat menemuiku" Jawab Shinji lagi sambil mengelengkan kepalanya.

"Maaf sudah membuatmu bicara sampai sejauh ini" Ichika menyesal minta maaf karena sudah mendengarkan permasalahan Shinji.

"Yak! Kira-kira seperti apa ya hadiah dari ayahku?" Shinji tidak mempedulikan permintaan maaf Ichika dan langsung kembali bersemangat karena penasaran hadiah dari ayahnya. Membuka kotak kecil tadi, terlihat seperti sebuah sarung tangan yang tergabung dengan suatu benda electronik aneh seperti gabungan antara jam tangan dan PDA dibagian pergelangan tangan nya berwarna merah.

"Ini... Jam tangan ya?" Shinji bingung melihat benda itu. Shinji langsung memasangkan benda itu ketangan kirinya, seketika saja benda itu langsung menyala dan menampilkan sesuatu cahaya seperti peta hologram 3 dimensi pada layarnya, terlihat dari gambar hologram itu seperti peta disekitar pulau akademi itu lengkap dengan dimana posisi Shinji berada sekarang.

"Wow! Keren! Ini device peta navigasi 3 dimensi!" Kaget Shinji sekaligus senang sambil memainkan peta hologramnya dengan memutari dengan tangan kanan nya. Shinji langsung mengutak-atik device itu hingga ia melihat suatu tombol touchscreen yang aneh.

"Called IS?" Bingung Shinji membacanya dan tanpa pikir panjang langsung menekan tombol itu.

Sekejap saja dihadapan Shinji muncul bola cahaya merah yang semakin lama semakin membentuk sesuatu. Terlihat seperti baju tempur bersayap seperti sayap naga dan berwarna merah api dengan bagian helmnya terlihat mirip seperti naga bertanduk tiga berlapis emas, itu adalah Infinite Stratos. Ichika juga langsung terkejut melihat IS itu.

"Ayah... INI HADIAH TERBAIK SEPANJANG HIDUPKU!" Teriak senang Shinji melihat IS itu.

"T-Tapi... Itu IS punya siapa?" Tanya Ichika dengan ragu.

"Tentu saja ini punyaku! Ayahku yang membelikan nya untuk ku!" Jawab santai Shinji yang masih senang.

"Memangnya IS bisa dijual bebas ya?" Ichika jadi semakin ragu melihatnya.

"Meeh? Memangnya harga IS itu satunya berapa?" Shinji malah tanya balik pada Ichika.

"Ehh... Entahlah berapa harganya?" Ichika menjawabnya dengan agak bingung bagaimana ia harus mesti menjawabnya.

"Baiklah! Kenapa tidak dicoba saja dulu barang mewah ini?" Shinji yang masih bersemangat langsung mendekati IS itu dan memasangnya. Otomatis bagian tangan dan kakinya langsung terpasang dibadan nya ditambah lagi dengan bagian armor badan dan helm yang menutupi penuh, jarang sekali ada IS yang terlihat full-armor seperti itu.

"SISTEM COMPLETED. ANALIZEING PILOT. SHINJI SANADA, COMFIRMED" Terdengar suara A.I dari IS Shinji.

"Siapa kau?" Dengan tololnya Shinji menanyai A.I itu dengan suara yang tersamar seperti suara mesin karena terpasang helm.

"NAMAKU DEVIL, SINGKATAN DARI DIGITAL EVELOPMENT VIRTUAL INTELEGENCE. AKU DISINI BERPERAN SEBAGAI PEMANDUMU, TUAN SANADA" Jawab A.I yang terlihat cukup cerdas untuk sebuah komputer yang bernama DEVIL.

"Boleh aku panggil kau D saja?" Tanya Shinji dengan lugunya kepada A.I itu.

"APAPUN ITU TERSERAH" Jawab datar A.I itu.

"Hei... Kau sedang berbicara dengan siapa?" Tanya Ichika yang tak bisa mendengar suara DEVIL dari dalam IS Shinji.

"Aku sedang berbicara dengan penghuni IS ini!" Jawab Shinji lugu dengan suara mesin nya.

"Hah?" Bingung Ichika mendengar jawaban nya.

"Tapi... Bagaimana kau tahu namaku?" Tanya Shinji kembali kepada DEVIL.

"TENTU SAJA. KARENA AKU SUDAH DIPROGRAM OLEH AYAHMU AGAR BISA MENGENALI SIAPA YANG AKAN MENJADI PILOT IS INI" Kembali DEVIL menjawab dengan datar.

"Ehh... Begitu. Lalu, bagaimana dengan kabar ayahku sekarang?" Paham Shinji mendengar jawaban nya sekaligus bertanya lagi.

"DIA BAIK-BAIK SAJA SEKARANG" Jawab DEVIL dengan datar lagi.

"Begitu ya... Syukurlah" Lega Shinji mendengar jawaban nya.

"Hei Shinji, kau tidak mau mencobanya untuk terbang?" Tanya Ichika yang penasaran dengan IS baru itu.

"Ahh iya hampir lupa!" Kaget Shinji menyadari maksudnya tadi.

"Baiklah, bersiap untuk terbang!" Mesin jet dari sayap IS Shinji langsung menyala dan terbang dengan cepat keluar menabrak kaca jendela kamar mereka dan mengacak-acak isinya.

"Ehh... Apa kamar kita ini ada asuransi untuk kerusakan akibat serangan IS?" Tanya Shinji yang langsung berhenti ditengah udara setelah menyadari telah menabrak kaca jendela kamarnya hingga pecah.

"Sepertinya... Tidak ada" Jawab Ichika dengan tampang kacau melihat isi kamarnya.

"Aku akan ganti semua kerusakan itu nanti" Balas jawab Shinji dan langsung terbang melanjutkan mencoba IS nya.

Fanfic IS
chapter 3 part 8
Shinji ditemani dengan cahaya senja yang masih terang terus berjalan dengan santai melupakan khayalan aneh sebelumnya menikmati suasana senja saat itu hingga ia sampai didepan gedung asramanya. Gedung itu terkesan futuristik berwarna cokelat mengkilap karena terkena sinar senja dengan tinggi 5 lantai. Tepat sebelum Shinji masuk kedalamnya ia melihat seorang siswi dengan rambut perak dan menggunakan penutup mata dimata kirinya diam berdiri seperti sedang menunggu, dia adalah Laura Bodewig. Shinji yang menyadari kesalahan sebelumnya langsung mengambil kesempatan berduanya untuk minta maaf pada Laura. Tapi tepat sebelum Shinji mulai bicara Laura lebih dulu langsung memberikan sebuah pudding cokelat padanya.

"Kau mau?" Tanya Laura pada Shinji.

"Ahh... Makasih. Tapi kenapa?" Dengan agak malu Shinji menerima pudding itu sekaligus bertanya mengapa Laura memberikan pudding itu padanya.

"Karena aku ingin minta tolong sesuatu padamu" Jawab Laura dengan tenang. Mereka berdua langsung duduk dikursi taman dekat gedung asrama mereka dan kembali membicarakan permasalahan mereka masing-masing.

"Sebelumnya... Aku ingin minta maaf dulu padamu" Setelah duduk Shinji meminta maaf dengan Laura dengan agak malu.

"Minta maaf kenapa?" Tanya Laura bingung mendengar maksud Shinji.

"Yah... Karena hari itu aku sudah merusak IS mu" Jawab Shinji dengan polos.

"Tidak perlu khawatir soal itu, IS akan diperbaiki dengan sendirinya setelah dalam keadaan closed form" Jawab balik Laura dengan jelas dan dingin. "Malah, aku merasa kagum ketika kau mengalahkan aku waktu itu" Lanjut Laura memuji Shinji.

"Meeh? Kagum kenapa?" Tanya Shinji dengan bingung dan lugu.

"Karena kau sudah mengalahkan aku hanya dengan menggunakan IS biasa" Jawab Laura menjelaskan nya seraya mengingat ketika Shinji melemparkan pedang kearahnya.

"Heh? Memangnya faktor kemenangan itu ditentukan dari seberapa canggihnya senjata yang dimiliki orang itu ya?" Shinji tambah bingung memikirkan kemenangan nya hari itu sambil memakan pudding cokelat yang diberikan Laura padanya.

"Karena itulah, hari itu kau telah membuktikan nya padaku. Seberapa canggihnya senjata yang kau miliki tidak akan bisa mengalahkan orang dengan persenjataan yang lemah tapi memiliki kemampuan yang hebat" Laura memuji Shinji lagi.

"Hehe... Jadi malu mendengarnya. Ngomong-ngomong tadi kau ingin minta tolong apa?" Balas Shinji malu-malu lalu mengganti pembahasan nya.

"Begini... Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu untuk memata-matai Ichika. Apa kau bisa bantu?" Laura langsung menjelaskan permintaan nya.

Shinji menyadari sudah lima orang hari ini yang meminta permohonan yang sama padanya, tapi karena terpaksa akan sumpahnya Shinji harus memenuhi permintaan nya.

"B-Buat apa kalau aku boleh tahu?" Tanya Shinji dengan ragu berharap Laura memiliki tujuan yang lain.

"A-Aku hanya ingin mengumpulkan data-data rahasia mengenai semua murid yang ada disini, itu saja!" Jawab Laura dengan agak panik dan malu-malu. Shinji menyadari perkataan Laura hanyalah untuk menutupi maksud sebenarnya. "Kenapa? Apa permintaan nya terlalu sulit?" Tanya Laura dengan agak ragu.

"Ehh! Tidak! Tidak ada masalah! Aku bisa kok!" Jawab Shinji kaget mendengarnya dan terpaksa menuruti permintaan nya.

"Baguslah. Oh, dan jangan sampai hal ini diketahui oleh orang lain!" Lega Laura mendengarnya seraya memperingatkan Shinji mengenai misinya.

"Siap!" Dengan tangan keatas tanda hormat sambil duduk dan mulut penuh dengan pudding Shinji menyangupi permintaan Laura.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Besok aku akan menemuimu lagi untuk menerima laporan nya" Laura langsung berdiri pamit dan pergi meninggalkan Shinji yang masih duduk seraya menyuruhnya lagi untuk tindakan selanjutnya. Setelah Laura menghilang dari pandangan memasuki asrama Shinji akhirnya menghela nafas lega dan membuka nota catatan nya lagi menulis permintaan Laura sekaligus melihat catatan permintaan ke empat orang lain nya.

"Dengan begini lengkap lima orang yang selalu bersama Ichika" Gumam Shinji sendirian. "Sial, beruntung sekali dia didekati oleh banyak perempuan!" Dengan rasa agak iri membayangkan Ichika yang dikelilingi oleh kelima perempuan itu Shinji langsung bangkit berdiri dari kursi taman yang ia duduki dan langsung melanjutkan perjalanan nya kembali kekamarnya.

Fanfic IS
chapter 3 part 7
Shinji berjalan menuju area olahraga, lebih tepatnya area pelatihan kendo, tempat ia berjanji untuk menemui Houki. Sesampainya disana Shinji melihat Houki yang berdiri ditengah area kendo yang masih menggunakan seragam akademinya memandangi Shinji dengan wajah kesal. Menyadari kesalahan nya Shinji langsung mendekati Houki dan menunduk minta maaf.

"Maaf sudah lama menunggu" Tunduk maaf Shinji pada Houki.

"Kau lama" Houki membalasnya seraya tidak menerima permintaan maaf Shinji.

"Ehh... Tapi dimana perlengkapan kendonya?" Shinji tidak mempedulikan keterlambatan nya sekaligus terheran melihat Houki yang masih belum mengenakan perlengkapan kendo.

"Hari ini tidak ada latihan, jadi tempat ini kosong" Houki menjelaskan keadaan sekitarnya.

"Tapi... Kau bilang tadi pagi sepulang sekolah nanti kita latihan kendo kan?" Bingung Shinji mendengar penjelasan Houki.

"Sebenarnya... Aku memintamu kesini untuk melakukan permohonan pribadi" Jawab Houki menjelaskan maksudnya dengan dingin dan langsung duduk dilantai dengan lutut didepan.

"Apa itu?" Tanya Shinji dengan duduk jongkok.

"Sebelumnya, apa tadi ada orang yang mengikutimu?" Houki balik bertanya pada Shinji langsung seraya curiga.

"Hmm... Sepertinya tidak ada" Jawab Shinji dengan polos sambil melihat pintu dojo dibelakangnya.

"Baiklah, kalau begitu langsung saja!" Lanjut Houki dengan serius. "Aku ingin kau membuntuti Ichika" Permintaan Houki pada Shinji.

"Heh?" Shinji terdiam langsung mendengar permintaan Houki karena permintaan nya sama dengan ketiga orang lain nya.

"Kau bisakan? Hanya tinggal membuntuti Ichika dan beritahu sesuatu rahasia dari dia?" Tanya Houki ragu sambil menjelaskan tugasnya.

Shinji ingin berkata bahwa ada 3 orang lain nya yang memiliki permintaan yang sama seperti Houki, tapi ia tidak berani karena sudah berjanji untuk tidak mengatakan nya kepada orang lain.

"Ehh... Iya. Baiklah. Aku terima permintaan nya" Jawab Shinji dengan gugup dan terpaksa melaksanakan nya.

"Dan jangan sampai kau memberitahu atau minta tolong dengan orang lain! Itu saja" Lanjut Houki langsung menyudahi permintaan nya.

"Sebelumnya, boleh aku tanya satu hal?" Tanya Shinji pada Houki yang masih duduk jongkok.

"Apa itu?" Tanya Houki balik.

"Kenapa kau memintaku untuk mencari rahasia tersembunyi Ichika?" Tanya Shinji berharap jawaban nya lain daripada ketiga orang sebelumnya.

"Hmph, Bukan urusanmu. Sekarang pergilah!" Houki menolak untuk menjawab sekaligus menyuruh Shinji pergi.

"Meeh... Baiklah" Shinji dengan nada pasrah mendengar jawaban Houki langsung berdiri dan keluar dari dojo.

Jawaban Houki memang tidak seperti Cecilia, Charlotte dan Lin Yin, Tapi Shinji merasa yakin dibalik sikap dingin Houki saat meminta tolong tadi sebenarnya ada maksud lain dibalik reaksinya itu. Sambil berjalan pulang menuju kamar asramanya Shinji menuliskan catatan permintaan orang yang ia tolong. Melihat semua catatan nya Shinji jadi semakin bingung memikirkan maksud ke empat orang yang ia tolong itu.

"Kenapa mereka ini semua mengincar Ichika? Memangnya mereka ini kekurangan persediaan 'melihat laki-laki' ya?" Bingung Shinji sendirian lagi sambil melihat catatan nya.

"Jangan bilang... Besoknya lagi bakal semua perempuan yang ada disini yang minta tolong padaku membuntuti Ichika!" Shinji langsung membayangkan pemandangan ketika dia terjepit diantara semua siswi yang minta tolong padanya dengan bayangan mengerikan.

"GAH! KALAU MAU CARI LAKI-LAKI KENAPA TIDAK CARI ORANG LAIN SAJA! KALAU PERLU AKU JUGA MAU!" Teriak kesal Shinji menghapus bayangan nya sendirian karena merasa kalah populer dibandingkan Ichika.

Fanfic IS
chapter 3 part 6

Shinji keluar kelas tidak langsung menuju kamar asramanya. Shinji pergi menuju kantin sekolah. Disana terlihat sepi, entah karena semua murid terlalu sibuk dengan urusan nya masing-masing atau karena tidak lapar Shinji tidak begitu memperhatikan nya. Shinji berdiri didepan mesin penjual minuman otomatis dan memasukan uang koin 100 Yen buat membeli minuman kaleng soda rasa cola. Tepat sebelum Shinji membuka minuman nya ia melihat Lin Yin sedang duduk terdiam memandangi jendela disalah satu meja kantin. Tanpa pikir panjang Shinji langsung masuk kedalam dapur kantin dan membuka lemari penghangat, didalamnya ada Dim Sum yang ia buat saat jam istirahat dan mengambilnya. Keluar dari dapur kantin dengan membawa Dim Sum Shinji langsung memberikan nya kepada Lin Yin.

"Ini, makanlah. Kau pasti laparkan?" Shinji memberikan Dim Sum nya kepada Lin Yin.

"Kenapa kau ada disini?" Kesal Lin Yin terasa terganggu oleh Shinji.

"Aku hanya melakukan tugasku, itu saja" Jawab Shinji dengan agak serius.

"Selain itu, aku tidak suka bila ada orang yang membuang-buang makanan nya" Shinji menambahkan seraya menasehati Lin Yin.

"Kenapa harus sampai segitunya kau melayani aku?" Tanya Lin Yin dengan agak kesal.

"Aku bisa melihatnya dari perilakumu sekarang" Jawab Shinji lalu duduk dikursi sebelah dekat meja Lin Yin. "Kau belum makan dari tadi siangkan? Aku bisa melihat kau saat ini sedang lemas dan lapar sekarang" Shinji menambahkan penjelasan nya.

Lin Yin langsung memalingkan wajahnya melihat Shinji, mukanya memang terlihat agak murung. Shinji langsung membuka keranjang Dim Sum seraya melayani Lin Yin. Tanpa waktu lama Lin Yin langsung memakan Dim Sum nya perlahan dimulai dari bagian bakpao nya.

"Ini… Enak!" Lin Yin memakan bakpao nya dengan sangat menikmatinya.

"Heh? Benarkah?" Shinji hampir tidak percaya mendengar penilaian masakan nya.

"Iya! Rasanya tidak seperti orang amatiran yang buat!" Lin Yin memakan semua Dim Sum nya dengan lahap sambil memberikan komentar tentang masakan nya. Tak lama Lin Yin sudah menghabiskan semua Dim Sum itu, Shinji langsung memberikan minuman kaleng teh dingin. Sambil menenangkan diri minum teh Lin Yin meminta maaf pada Shinji.

"Maafkan aku" Lin Yin menunduk minta maaf pada Shinji.

"Minta maaf kenapa?" Tanya Shinji dengan bingung.

"Karena aku... Sudah mengerjaimu tadi" Jawab Lin Yin dengan rasa agak bersalah.

"Jangan khawatir soal itu! Aku akan tetap meme-" Jawab balik Shinji dengan santai tapi disela omongan Lin Yin.

"Bukan karena itu!" Lin Yin langsung memotong omongan Shinji.

"Aku... Pada awalnya berencana ingin mengerjaimu, tapi..." Lanjut Lin Yin dengan rasa menyesal. Shinji memperhatikan omongan Lin Yin dengan serius, tepat sebelum selesai bicara Shinji menghentikan nya sambil memegang kepala Lin Yin.

"Aku mengerti kok" Jawab Shinji tersenyum senang. Lin Yin jadi malu ketika kepala nya dipegang oleh Shinji dengan halus.

"Aku sudah mendengar dari Ichika, kau rela hampir mati karena menolong orang ya pada hari itu?" Tanya Lin Yin dengan agak malu-malu.

"Bagiku, tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. Kalau orang lain bahagia, aku juga akan senang" Jawab Shinji serius sambil tersenyum. Lin Yin jadi terkesan mendengar perkataan nya. Shinji langsung berdiri dari kursinya sambil mengelus kepala Lin Yin seraya pamit pergi. Lin Yin merasa malu campur senang menerimanya.

"Tunggu dulu!" Lin Yin berdiri memanggil Shinji yang belum jauh keluar dari kantin.

"Ada apa?" Tanya Shinji tanpa membalikan badan nya.

"Apa aku bisa minta tolong lagi?" Tanya Lin Yin balik dengan malu-malu.

"Apapun itu asal bisa membuatmu senang. Aku turuti" Jawab Shinji sambil balik badan menghadap Lin Yin.

"Apa... Kau mau membantuku memata-matai Ichika?" Tanya Lin Yin dari kejauhan. Shinji terdiam sejenak menyadari Lin Yin adalah orang ketiga yang meminta permohonan yang sama.

"Untuk apa?" Shinji bertanya seraya berharap permintaan nya lain dari Charlotte dan Cecilia.

"Bukan urusanmu! Apapun yang dilakukan Ichika sekecil apapun besok dilaporkan padaku dan jangan beritahu hal ini pada orang lain!" Kesal Lin Yin dari jauh sambil malu.

Shinji sudah menduga bakal ada yang minta tolong seperti ini lagi. Yang bisa Shinji lakukan hanyalah menuruti permintaan nya, tidak peduli asal dapat membuat Lin Yin senang.

"Baiklah! Aku siap melaksanakan nya!" Shinji berjanji sambil mengancungkan jari jempol kanan nya tanda siap.

"Baiklah, aku pergi dulu. Aku ada janji dengan seseorang" Shinji langsung pamit keluar kantin dengan Lin Yin seraya mengingat janjinya dengan Houki berlatih kendo tadi pagi. Selagi berjalan menuju dojo kendo Shinji pusing memikirkan permintaan 3 orang tadi.

"3 orang memohon permintaan yang sama..." Pikir Shinji sambil berjalan dan lipat tangan. "Memangnya apa yang special dari Ichika itu?" Tambah bingung Shinji lagi.

Fanfic IS
chapter 3 part 5
Tersadar bel masuk sudah berbunyi Shinji berlari dengan cepat menuju kelasnya. Koridor sudah kosong karena semua murid sedang belajar, yang tersisa hanya suara langkah lari dari sepatu Shinji. Dari koridor lain disebelah kirinya terlihat gadis berambut pirang ponytail pendek dengan mata berwarna violet juga sedang berlari mendekatinya, itu Charlotte.

"Telat juga ya?" Tanya Shinji pada Charlotte sambil berlari.

"Iya, aku terlalu lama berada di kamar kecil!" Jawab Charlotte sambil berlari juga.

Shinji sempat membayangkan apa yang dilakukan gadis Perancis itu dikamar kecil, tapi hanya sejenak ketika mereka sudah tiba diruang kelas 2-1.

"Maaf aku terlambat!" Jawab Shinji dan Charlotte bersamaan ketika pintu otomatis kelas mereka terbuka. Didalamnya ada Chifuyu-sensei yang lagi mengajar didepan kelas mereka.

"Maaf Sanada, Dunois. Kalian terlambat. Harap tunggu diluar kelas sampai pelajaran selesai nanti" Chifuyu-sensei tidak mengizinkan Shinji dan Charlotte masuk karena terlambat seraya memberikan hukuman pada mereka.

Shinji dan Charlotte hanya pasrah saja menerima hukuman itu dan berdiri diluar kelas. Tidak ada siapapun dikoridor luar kelas saat itu, terkecuali hanya Shinji dan Charlotte yang sedang menjalani hukuman nya. Mengingat janjinya dan dengan siapa yang didekatnya Shinji langsung meminta maaf pada Charlotte.

"Aku minta maaf" Sambil berdiri Shinji meminta maaf pada Charlotte.

"Minta maaf kenapa?" Tanya Charlotte halus.

"Karena aku sudah merusak IS mu hari itu" Jawab Shinji dengan agak serius.

"Tidak perlu khawatir soal itu. Para ahli mekanis bisa memperbaikinya kok" Balas Charlotte dengan tersenyum.

"Yah tapi… Aku merasa harus bertanggung jawab untuk itu" Balas Shinji balik dengan agak ragu memikirkan cara meminta maafnya. Sejenak ketika terdiam sebentar Charlotte langsung meminta tolong pada Shinji.

"Ehh… Apa aku bisa minta tolong padamu?" Tanya Charlotte agak malu pada Shinji.

"Apa itu? Bilang saja apa yang kau inginkan" Jawab Shinji melihat kesempatan nya untuk meminta maaf.

"Apa… Kau tinggal sekamar dengan Ichika?" Tanya Charlotte lagi semakin malu-malu pada Shinji.

"Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Shinji balik sambil mengaruk kepalanya seraya bingung apa yang di inginkan oleh Charlotte.

"Aku…" Dengan muka merah padam suara Charlotte tidak kedengaran oleh Shinji.

"Apa? Aku tidak dengar" Shinji membalas seraya menempelkan tangan ke telinga supaya bisa mendengar dengan jelas. Charlotte langsung mendekatkan mulutnya ketelinga Shinji membisikan sesuatu takut bila obrolan nya didengar orang, walaupun disitu hanya ada mereka berdua.

"Aku ingin kau memata-matai Ichika" Bisik pelan Charlotte malu-malu ditelinga Shinji.

"Meh? Buat apa?" Tanya Shinji dengan wajah kelihatan seperti orang tolol. 2 detik kemudian Shinji langsung mengerti maksud Charlotte.

"Ah! Aku menger-" Sebelum menyelesaikan kata-katanya setelah sadar Charlotte langsung menyumbat mulut Shinji dengan tangan nya.

"Tolong jangan bilang siapa-siapa mengenai hal ini!" Charlotte memohon kepada Shinji. Dengan pelan Shinji membuka bungkaman mulutnya dari tangan Charlotte seraya ingin berbicara lagi.

"Aku mengerti kok maksudmu" Angguk Shinji pada Charlotte. "Dari ekspresi wajahmu saja sudah menunjukan pada hal itu" Jawab jelas Shinji sambil tersenyum santai.

"Kamu... Berjanji untuk tidak mengatakan ini pada semua orang?" Tanya Charlotte seraya ingin memohon.

"Ya, aku janji. Karena ini jalan laki-laki ku! Pria sejati harus tetap memegang janjinya pada seseorang!" Jawab Shinji dengan tegas dan serius.

"Terima kasih banyak. Maaf bila merepotkanmu" Balas Charlotte sambil menunduk terima kasih sekaligus maaf sambil tersenyum senang. Shinji terpana sebentar ketika melihat senyum Charlotte, sampai akhirnya ia tersadar dengan maksud meminta maaf nya.

"Y-Yah, anggap saja ini sebagai ganti rugi karena telah merusak IS mu" Jawab Shinji malu-malu sambil menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.

Charlotte hanya tertawa kecil melihat ekspresi Shinji sedangkan ia sendiri hanya bisa menghembus nafas lega karena telah menuntaskan misi minta maafnya. Shinji langsung mengubah perhatian nya dengan merogoh kantong celananya dan mengambil beberapa buah permen karet rasa cola lemon. Seraya membuka bungkus dan memakan nya Shinji menawarkan permen karet nya kepada Charlotte.

"Mau?" Tawar Shinji pada Charlotte sambil mengunyah permen karetnya.

"Ehh… Tidak apa-apa?" Dengan agak ragu Charlotte menerimanya.

"Jangan khawatir, sewaktu aku masih SD saat aku terlambat masuk sekolah aku menghabiskan waktuku dengan makan permen karet!" Jawab santai Shinji dengan muka agak usil. Charlotte pun akhirnya menerima permen karet pemberian Shinji setelah mendengar perkataan nya sekaligus percaya padanya.

Sudah berbagai hal yang dilakukan Shinji agar bisa mengusir kebosanan nya selama masa hukuman nya bersama Charlotte. Dimulai dari makan permen karet, main suit gunting-batu-kertas, hingga main game handheld console punya Shinji. Hebatnya lagi perilaku mereka tidak terdeteksi oleh Chifuyu-sensei yang memperhatikan dari luar kaca jendela ruangan kelas. Hingga tak terasa akhirnya bel pulang berbunyi, Shinji langsung mengantongi game handheld console nya supaya tidak ketahuan oleh Chifuyu-sensei tepat setelah pintu kelas terbuka.

"Kuat juga kau bisa berdiri disitu" Heran Chifuyu-sensei pada Shinji.

"Yah… Mungkin ini kekuatan dari alam liar selama 3 tahun" Jawab asal Shinji berbohong.

"Sebenarnya kami-" Charlotte dengan polosnya ingin berbicara jujur tapi tepat saat itu Shinji menyikutnya dengan pelan seraya memperingatkan 'jangan memberitahu dia'.

"Terserahlah. Yang pasti kalian nanti minta salian PR kalian nanti sama teman sekamar kalian. Itu saja dan kalian boleh pergi" Seraya tidak peduli dengan omongan mereka Chifuyu-sensei menyuruhnya untuk pergi.

Shinji dan Charlotte lalu masuk kedalam kelas meninggalkan Chifuyu-sensei yang keluar dari kelas juga untuk mengambil tas mereka. Shinji dan Charlotte hanya bisa tertawa kecil melihat respon Chifuyu-sensei yang tak menyadari apa yang mereka lakukan tadi. Setelah Shinji mengambil tas dari mejanya dilihatnya Cecilia masih duduk menunggu memandanginya. Shinji jadi teringat dengan janjinya saat jam pelajaran pertama dengan Cecilia.

"Kau duluan saja dulu" Shinji memandangi Charlotte seraya memintanya untuk pergi.

"Aku mengerti. Berusahalah Shinji-kun" Charlotte mengangguk mengerti dan keluar dari kelas. Shinji merasa agak aneh ketika dipanggil Charlotte dengan panggilan 'Shinji-kun' lalu kembali memandangi Cecilia dan mendatanginya.

"Maaf membuatmu lama menunggu" Shinji mengangguk minta maaf pada Cecilia.

"Tidak apa. Kau tepat waktu kok" Jawab Cecilia dingin.

"Jadi… Apa permintaanmu?" Tanya Shinji langsung pada Cecilia sambil memandangi langit siang menjelang diluar jendela kelas.

"Ini… Permintaan pribadiku, jadi…" Muka Cecilia langsung menjadi merah malu-malu bicara dengan Shinji dan langsung mendekatkan mulutnya ketelinga Shinji seraya membisikan sesuatu.

"Aku ingin kau memata-matai Ichika" Bisik Cecilia ditelinga Shinji. Merasa pernah mendengar permintaan yang sama tidak perlu waktu lama bagi Shinji untuk memahami maksudnya.

"Aku mengerti" Angguk Shinji langsung setelah mendengarnya.

"Heh? Benarkah?" Seraya hampir tidak percaya Shinji mengerti permintaan nya Cecilia bertanya untuk meyakinkan dirinya.

"Ya aku tahu kok! Kamu suka deng-" Dengan lantang dan santai Shinji memberitahukan nya tapi tepat sebelum selesai bicara langsung dibungkam oleh Cecilia.

"Baiklah aku percaya! Tapi kumohon jangan diberitahu siapa-siapa!" Cecilia malu-malu langsung menutup mulut Shinji seraya memohon.

"Jangan khawatir! Aku bisa pegang janji itu!" Seraya Shinji membuka mulutnya ia menepuk dada memegang janjinya.

"Kau janji?" Cecilia masih agak tidak percaya menanyai Shinji.

"Aku jamin! Kalau tidak aku akan menjadi budakmu seumur hidup! Kau bisa pegang janji itu!" Dengan tegas Shinji menjaminkan janjinya.

"Baiklah, aku pegang janji itu! Awas nanti kalau tidak!" Cecilia menunjuk pada Shinji menerima janji itu dengan muka serius dan langsung pergi keluar dari kelas.

Shinji tersadar Cecilia memiliki permintaan yang sama dengan Charlotte, itu membuat Shinji bingung apa yang harus dilakukan nya. Lagipula Shinji juga sudah berjanji untuk tidak memberitahukan permintaan rahasia mereka kepada orang lain.

"Aku harus bagaimana ya?" Bingung Shinji sendirian sambil menempelkan jari telunjuk dikepalanya seraya berpikir. "Mungkin kalau aku tidak bilang semua baik-baik saja" Pikir Shinji santai seraya tidak mempedulikan nya lagi dan pergi keluar kelas.

Fanfic IS
chapter 3 part 4
Bel masuk kelaspun berbunyi, semua murid yang ada diluar kelas tadinya langsung masuk kedalam dan duduk ditempatnya. Shinji melihat Cecilia, Charlotte dan Laura langsung masuk ke kelas, dia bermaksud ingin meminta maaf pada mereka, tapi tidak sempat karena Yamada-sensei sudah masuk lebih dulu. Lama Shinji menunggu jam istirahat untuk menuntaskan janjinya pada Lin Yin, dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku masak tentang masakan Cina yang ia pinjam dari Lin Yin dan tersamar oleh buku pelajaran IS nya. Tidak ada yang menyadari apa yang dibaca Shinji karena semua terlihat serius untuk mengikuti pelajaran, terkecuali Shinji dengan buku masaknya. Selesai Shinji memahami cara memasaknya ia menutup bukunya dan melihat jam dinding kelas, masih lama lagi untuk menunggu waktu jam istirahat. Shinji akhirnya berniat untuk mengikuti pelajaran, meskipun ia tidak tahu harus memulai dari mana karena tidak memperhatikan pelajaran dari awal. Mendengar penjelasan Yamada-sensei dari kursinya sepertinya saat ini mereka sedang belajar Biologi. Untungnya tidak ada yang memperhatikan Shinji tadi karena ia salah menunjukan buku. Merasa suntuk dengan pelajaran nya Shinji akhirnya memutuskan untuk lanjut meminta maafnya.

Disobek kecil kertas buku kosongnya Shinji menulis sesuatu dikertas itu lalu dibulatkan dan melemparnya pada Cecilia tepat kena dikepalanya dengan pelan. Cecilia langsung memandang kebelakang mencari pelakunya siapa yang melemparkan kertas itu padanya. Dilihatnya Shinji sedang memperagakan sesuatu padanya seperti kata sandi gerak, menyuruhnya untuk membuka kertas yang ia lempar tadi. Cecilia dengan agak kesal karena diganggu tadi langsung membuka kertasnya, terlihat tulisan Shinji dikertas itu yang bertuliskan "Aku minta maaf" padanya.

Cecilia langsung merobek kecil kertas dibukunya dan menulis sesuatu juga disitu lalu melempar balas pesan Shinji tadi. Shinji menerima pesan dari Cecilia yang bertuliskan "Minta maaf kenapa?" dan langsung membalasnya dengan cepat.

Cecilia menerima kembali pesan dari Shinji, kali ini agak panjang isinya. "Aku minta maaf karena hari itu aku sudah membuat masalah padamu. Karena itu, sebagai ganti ruginya aku siap untuk mengikuti semua perintahmu. Note: asal masih dalam batas kewajaran saja" Isi tulisan pesan itu dari Shinji.

Lama agak berpikir Cecilia lalu kembali mengirimkan pesan ke Shinji seraya menyudahi 'perang lempar kertas' nya. Shinji membaca pesan dari Cecilia yang bertuliskan "Kita lanjutkan pembicaraan ini sepulang sekolah nanti saja dan jangan lempari aku dengan kertas lagi!"

Merasa sudah memahami situasinya Shinji langsung menghentikan lempar pesan nya, sampai akhirnya ia kaget ketika namanya dipanggil oleh Yamada-sensei, meminta penjelasan mengenai pelajaran biologi nya.

"Sanada, apa kau mengerti apa yang sensei maksud?" Tanya Yamada-sensei dengan halus.

"Ahh... iya. Tentang seleksi alam dan bioma nya kan?" Jawab asal Shinji dengan agak panik.

"Yap, benar. Syukurlah kukira kau tidak memperhatikan pelajaran tadi" Lega Yamada-sensei mendengarnya sambil tersenyum. Sementara Shinji hanya bisa menghela nafas lega karena jawaban asalnya benar.

Lama akhirnya menunggu akhirnya bel istirahat berbunyi. Shinji langsung menyiapkan kuda-kudanya untuk keluar dari kelas setelah hormat perpisahan. Tepat setelah Yamada-sensei keluar kelas Shinji langsung memerintahkan Lin Yin untuk menunggu di kantin.

"Tunggu dikantin dulu, aku akan segera membuatnya!" Sahut Shinji pada Lin Yin dan langsung berlari keluar kelas dengan cepat menuju kantin.

Dengan cepat Shinji langsung berlari kekantin dan bertanya pada penjaga kantin untuk meminjam perlengkapan dapurnya.

"Paman, boleh aku pakai dapurnya sebentar?" Tanya Shinji kepada penjaga kantin itu sambil mengambil nafas karena habis berlari.

"Yah, boleh saja. Tapi buat apa?" Tanya penjaga kantin itu mengizinkan seraya penasaran kenapa.

"Ada janji yang harus kupenuhi" Jawab Shinji langsung.

"Kalau begitu, kesini" Seraya penjaga kantin itu langsung membukakan pintu dapur untuknya.

Didalam agak cukup ramai dan panas, keributan dari para juru masak yang sedang membuat makan siang dan panas dari oven dan kompor. Shinji langsung memasangkan celemek dan topi koki didekat gantungan pakaian disebelahnya.

"Baiklah, saatnya memasak!" Semangat Shinji dengan serius.

Sementara itu Lin Yin sedang menunggu masakan Shinji disalah satu meja kantin, dengan perasaan tidak sabaran menantinya. Tak lama akhirnya pintu dapur terbuka, terlihat Shinji dengan seragam akademi ditambah dengan celemek dan topi koki nya sedang memegang keranjang bambu berisi Dim Sum didalamnya bergaya seakan dia adalah koki profesional.

"Siapa yang ada memesan Dim Sum tadi?" Tanya santai Shinji sambil memandang sekelilingnya mencari Lin Yin. Tepat saat Shinji melihat Lin Yin ia langsung mendekatinya dan menjamu tuan putri selayaknya seorang butler.

"Silahkan dinikmati" Seraya Shinji menuduk hormat memberikan Dim Sum itu kepada Lin Yin.

"C-Cepat sekali?" Kaget Lin Yin melihat kerja Shinji yang begitu cepat. Sejenak Lin Yin memikirkan bagaimana bisa Shinji membuat Dim Sum dengan begitu cepat tapi langsung tidak dipedulikan nya. Curiga bila terlihat gagal Lin Yin langsung membuka keranjang bambu itu dan ternyata isinya memang menu Dim Sum lengkap didalamnya.

"Apa kau minta bantuan kepada koki didalam tadi?" Curiga Lin Yin pada Shinji.

"Tentu saja tidak! Aku membuatnya sendiri kok!" Shinji membela dirinya dengan alasan yang sangat jelas.

"Kalau begitu, kau coba makan ini!" Lin Yin masih meragukan makanan nya dan menyuruh Shinji untuk memakan nya. Shinji dengan santai mengambil sumpit didekatnya dan dimakan nya bagian pangsit didalamnya.

"Hmm… Ini enak kok" Jawab santai Shinji sambil memakan pangsit Dim Sum nya.

"Itu baru pangsit nya, coba siomay ini" Masih tidak yakin Lin Yin menyuruh Shinji mengetes siomay nya.

"Ini juga enak" Jawab Shinji lagi sambil memakan nya. Setelah beberapa kali mencoba makanan yang berbeda dari Dim Sum nya, bukan nya merasa percaya Lin Yin malah makin tidak percaya.

"Jangan-jangan yang kau makan itu yang tidak ada racun nya!" Marah Lin Yin kepada Shinji.

"Kau tidak percaya padaku? Kalau begitu aku buktikan makanan ini aman!" Shinji dengan kesal langsung memakan semua Dim Sum itu untuk membuktikan dirinya.

"Lihat? Apa aku terlihat sakit sekarang?" Tanya Shinji membuktikan dirinya setelah memakan Dim Sum nya.

"Ya, tapi kau memakan semuanya" Dengan tatapan kesal Lin Yin melihat keranjang Dim Sum yang sudah kosong dimakan Shinji semua.

"AHH! MAAF! SEGERA KUBUATKAN LAGI!" Kaget Shinji setelah sadar telah memakan semua Dim Sum nya dan langsung pergi kedapur kantin lagi.

Belum sempat Shinji selesai memasaknya bel masuk kelas berbunyi. Kontan saja semua murid langsung cepat-cepat lari ke kelasnya dan sebagian menghabiskan makanan nya yang masih tersisa.

"Ahh sial! Aku tidak jadi makan siang sekarang! Setidaknya dia tidak ada dikelas nanti" Kesal Lin Yin campur senyum licik mendengar bel masuk dan langsung pergi dari kantin.

"Maaf menunggu lama!" Shinji yang tidak menyadari Lin Yin sudah pergi dan suara bel masuk keluar dari dapur kantin sambil membawa Dim Sum dan melihat isi kantin yang sudah kosong.

"Heh? Kemana yang lain nya?" Bingung Shinji sendirian melihat kantin nya sudah kosong.